BELAJAR MENJADI BAHAGIA BERSAMA PLATO

Berlogika = Berbahagia (Voltaire Talo)

 

Auguste-Rodin-The-Thinker-1880-81

PENDAHULUAN

Kehidupan manusia tidak terlepas dari pemaknaan mengenai kebahagian. Semua manusia ingin bahagia, begitulah klaim yang seringkali kita dengar. Namun, dalam perkembangannya pemaknaan mengenai kebahagiaan tidak lagi menyentuh hal-hal yang bersifat eksistensial tapi lebih dimengerti sebagai suatu keadaan hedonis dimana terpenuhinya semua hasrat dan kebutuhan manusia.

Masyarakat modern menawarkan definisi kebahagiaan sebagai pemenuhan akan harta, memiliki reputasi yang baik, bisa traveling keliling dunia, bisa gonta-ganti gadget bahkan pasangan serta bisa hidup terlepas dari kaidah/dogma agama. Inilah arti kebahagiaan menurut masyarakat modern. Kehilangan nilai atau kebermaknaan hidup dilihat sebagai suatu hal yang tidak penting.

Bahaya memaknai kebahagiaan (hanya) seperti definisi di atas akan menghilangkan nilai kita sebagai manusia. Maka jangan heran jika dalam lingkungan kita makin berkembang perilaku individu-narsis. Perilaku yang lebih mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain karena fokus yang dikejar adalah hanya untuk kepuasan diri sendiri.

Dalam pandangan humanis Carl Rogers (Psikolog dan Terapis), ia menyimpulkan bahwa Kebahagiaan adalah keadaan dimana manusia bisa berfungsi seutuhnya terhadap diri sendiri dan orang lain (Fully functioning person). Mundur jauh beberapa abad ke belakang, Plato yang juga merupakan seorang filsuf menyelidiki lebih jauh mengenai konsep Jiwa dan berpendapat bahwa kebahagiaan merupakan gabungan seimbang dari 3 unsur yaitu Epithumia, Thumos  dan Logistikon.

Tulisan ini akan membahas mengenai pandangan kebahagiaan melalui 3 unsur yaitu Epithumia, Thumos  dan Logistikon. Tujuan dari tulisan ini adalah agar manusia-manusia (saya dan anda) yang hidup dalam arus modernisme bisa melakukan perenungan lebih mendalam mengenai apa itu kebahagiaan dan menjadi manusia.

Epithumia

Epithumia menurut Plato adalah nafsu-nafsu primitif manusia yang harus segera dipenuhi tanpa bisa tawar-menawar. Nafsu-nafsu ini merupakan insting yang sangat susah untuk tunduk pada ratio (akal budi).  Plato menyebutkan bahwa sifat epithumia itu irasional, tidak tunduk pada akal budi sehingga secara fisiologis epithumia berada pada bagian perut ke bawah jauh dari kepala.

Nafsu-nafsu seperti Seks, makan, minum, dan uang merupakan bagian dari epithumia. Menurut Plato nafsu-nafsu ini berguna bagi keberlangsungan hidup manusia namun manusia menjadi tidak sehat jika hanya mengejar pemenuhan atas nafsu-nafsu tersebut tanpa mengenal rasa puas. Sikap seperti ini hanya akan menghancurkan manusia itu sendiri.

Thumos

Jika secara fisiologi ephithumia berada pada bagian perut ke bawah maka thumos berada di antara leher dan dada. Thumos  sangat berbeda dengan ephithumia. Thumos  merujuk pada afektivitas, rasa, semangat dan agresivitas. Thumos adalah tempat dimana keberanian muncul. Menurut Plato, thumos bisa drive manusia untuk tidak menyerah ada takdir, tidak pasrah apalagi memble dalam menjalani tekanan hidup.

Rasa cinta, ingin diakui, ingin dihargai, ingin mendapat pujian  merupakan ciri dari thumos. Uang, makanan dan seks bukan segala-galanya bagi orang-orang yang didominasi oleh thumos. Mereka butuh pengakuan, butuh rasa ingin dihargai, dan butuh cinta. Orang-orang yang disetir oleh thumos tidak mencari hal-hal material yang sifatnya rendah.

Thumos adalah hasrat-hasrat yang umumnya cenderung baik dan mudah diarahkan oleh akal budi. Namun, saat mengikuti dirinya sendiri, thumos bisa menjadi irasional.

Kita bisa lihat contoh manusia yang disetir oleh thumos pada pendukung fanatik suatu kesebelasan sepak bola atau kelompok fanatik agama tertentu. Mereka tidak memfokuskan diri pada pemenuhan makanan, uang dll tapi bisa secara irasional (dengan berani mati) membela apa yang mereka yakini.

Logistikon

Menurut plato, Logistikon atau Logika merupakan faktor yang paling penting. Logika digambarkan sebagai sais kereta kuda yang lihai dan mampu untuk mengatur ephithumia (kuda hitam) dan Thumos (kuda putih) agar bisa berjalan bersama mencapai tujuan. Karena sifatnya penuh dengan  kebijakan dan akal budi, logistikon berada pada bagian paling atas dari anatomi tubuh manusia yaitu Kepala.

Menggunakan logika merupakan hal yang paling utama untuk mendapat hidup yang bahagia. Plato berpendapat bahwa manusia yang hidup karena (hanya) didorong oleh ephithumia atau thumos akan merugikan peradaban. Peradaban hanya dibangun oleh manusia dengan logika yang baik sehingga mampu mengatur hasrat-hasrat irasional.

PENUTUP

Pemikiran Plato sebagai seorang filsuf merupakan pemikiran yang masih relevan jika diterapkan dalam kehidupan saat ini.  Pemikirannya mengenai unsur-unsur (Epithumia, Thumos dan Logistikon) yang ada dalam diri manusia dapat menolong kita (masyarakat modern) untuk bisa menyadari bahwa selama ini hidup yang kita jalani untuk mencapai kebahagiaan lebih disetir oleh unsur yang mana.

Dengan mengetahui pemikiran Plato, kita diajak merenungkan dan bertindak dengan logika untuk mencapai kebahagiaan sehingga menurut saya orang-orang yang menggunakan Logika adalah orang-orang yang berbahagia. Logika mampu menyelaraskan perasaan dan nafsu primitif untuk membuat kita menjadi manusia seutuhnya.

Selamat berbahagia.

Referensi:

Wibowo, Setyo, A. Areté: Hidup Sukses Menurut Platon, Yogyakarta: Kanisius, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s