NN

Beberapa hari yang lalu dalam suatu acara pemilihan ketua perkumpulan etnis, saya mengajukan pertanyaan kepada dua orang yang pada waktu itu mencalonkan diri sebagai ketua. Pertanyaan saya merupakan pertanyaan yang menurut saya sangat sulit namun juga mudah untuk dijawab karena bagi saya mereka yang bisa menjawab adalah orang-orang yang sudah melakukan penyelidikan diri (self-reflection) atau minimal menyadari potensi apa saja yang dimilikinya. Pertanyaan saya waktu itu kepada dua orang calon ketua adalah : “apa kelebihan dalam diri kalian atau kualitas positif yang ada dalam diri kalian sehingga kami harus memilih salah satu dari kalian (calon ketua) untuk menjadi ketua?”

Kedua calon ketua seakan kompak dan menjawab bahwa masing-masing dari mereka tidak memiliki kelebihan bahkan salah satu diantara mereka menjawab kurang lebih seperti ini “yah, kakak bisa lihat dalam keseharian saya, saya orangnya seperti bagaimana, begini-begini saja”. Jawaban mereka bagi saya tidak salah namun kurang tepat, hal ini sama seperti ketika anda ditanya, “untuk membuka baut anda menggunakan obeng atau sendok?” lalu, anda kemudian menjawab sendok. Memang tidak salah,  sendok bisa dipakai untuk membuka baut tapi apakah sendok merupakan alat yang tepat? Memang tidak salah kedua calon ketua itu tidak memiliki kelebihan (mungkin untuk saat ini) namun apakah itu tepat? Tentunya tidak. Saya berpendapat bahwa masing-masing dari kita yang diciptakan sebagai manusia tentunya memiliki kelebihan dan kapasitas positif disamping itu kita juga memiliki kekurangan namun kekurangan itu tidak kemudian menjadi fokus kita untuk menilai diri kita, sehingga kita selalu menjadi orang yang pesimis dan menilai diri sebagai orang yang negatif dan sebaliknya kelebihan yang kita miliki tidak dijadikan ‘alat’ untuk kita melebih-lebihkan diri dan menjadi arogan. Hal yang paling penting dan utama adalah menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri kita untuk membantu diri sendiri dan orang lain agar bisa mengaktualisasikan diri mereka secara positif.

Selanjutnya, dari jawaban kedua calon ketua, saya jadi berpikir “apa yang membuat mereka bisa menjawab  dengan jawaban seperti itu?” Ada dua asumsi yang kemudian saya pikirkan bahwa hal-hal inilah yang menjadi pertimbangan mereka dalam menjawab pertanyaan saya.

Takut sombong

Asumsi pertama adalah takut sombong. Kita semua dibesarkan dalam budaya yang menolak kesombongan. Sebagai manusia yang berhubungan dengan manusia yang lain, sikap sombong adalah racun yang bisa menjadi penyebab ‘mati’-nya kedekatan antar satu manusia dengan manusia lain. Sikap seperti ini jelas harus ditolak.

Ada perbedaan antara sikap sombong dan sikap menyadari sesuatu. Bagi saya sikap sombong itu adalah ketika seseorang menceritakan segala sesuatu yang dia miliki secara berlebihan dengan tujuan agar dia selalu diakui sehingga orientasinya adalah orientasi pada diri sendiri dan bukan pada perkembangan hubungan dengan orang lain. Sikap menyadari kekuatan atau kelebihan yang kita miliki adalah sikap dimana kita mengetahui hal-hal positif apa saja yang ada dalam diri kita yang kita ijinkan orang lain untuk mengetahuinya dengan tujuan agar kita bisa terus berkembang dan mengalami pertumbunan pribadi-positif bersama dengan orang lain. Apa contohnya? Orang yang sombong akan bersikap seperti ini, “ saya memiliki kelebihan, saya adalah orang yang kreatif, karena kreatif saya bisa membuat apa saja yang saya inginkan, orang lain tidak bisa seperti saya karena mereka tidak kreatif, hanya saya yang bisa.” Pernyataan orang yang sombong cenderung untuk mengagungkan dirinya sendiri. Berbeda dengan orang yang Menyadari potensi dalam dirinya, mereka akan berkata, “saya memiliki kelebihan, saya adalah orang yang kreatif tapi saya harus belajar bersama dengan teman-teman agar menjadi lebih kreatif dan kelebihan saya ini bisa berguna bagi kita semua.” Pengungkapan diri seperti ini akan menjadi lebih postif dan lebih bijak sehingga dengan sendirinya kita menjadi orang yang bisa menjadi manusia bersama dengan orang lain.

Saya kemudian berpendapat bahwa kedua calon ketua tersebut (mungkin) takut dilihat sebagai orang yang sombong ketika mereka mengatakan beberapa kelebihan yang mereka miliki kepada banyak orang sehingga mereka menjawab bahwa mereka tidak memiliki kelebihan apa-apa. Menarik bukan? Sikap ini yang selalu menjadi pertimbangan kita sehingga kita seperti takut untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi kekuatan positif yang ada dalam diri kita dan kemudian jawaban yang kita berikan secara tidak sadar adalah mengatakan bahwa kita tidak memiliki kelebihan apa-apa.

Jadi yang harus diungkapkan dari kita kepada orang lain adalah potensi atau kekuatan atau kelebihan dalam diri yang kita miliki dengan tujuan untuk bertumbuh bersama dengan orang lain. Orang lain bertumbuh, kita juga bertumbuh. Jangan takut dikatakan sombong ketika kita mengakui kelebihan kita kepada orang lain dengan tujuan agar bisa bertumbuh bersama. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia.

Belum sadar

Asumsi kedua yang mungkin terjadi dan dialami oleh kedua calon ketua tersebut adalah mereka belum menyadari kelebihan atau potensi yang mereka miliki. Proses manusia untuk menjadi sadar terkadang merupakan suatu proses yang menyakitkan. Kenapa? Karena melibatkan hubungan dengan orang lain. Jika kita mau menyadari bahwa kita memiliki jiwa pemimpin maka tidak bisa tidak bahwa akan melibatkan orang lain. Orang lain mungkin akan bersikap menjadi menjengkelkan sehingga hal-hal tersebut menyakitkan buat kita namun juga bisa membuat diri kita terlatih untuk mengatasinya, dengan demikian jiwa kepemimpinan kita akan muncul. Dari contoh ini saya mau mengatakan bahwa kita menyadari kelebihan dan kemudian kekurangan dalam diri kita adalah ketika kita berhubungan dengan orang lain. Namun perlu hati-hati karena tidak semua orang bisa membantu kita untuk belajar mengetahui diri atau kekuatan positif dalam diri kita, tapi paling tidak kita membutuhkan orang lain.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan cara membuat refleksi diri sendiri. Socrates pernah mengatakan bahwa “hidup yang tidak dimaknai tidak layak untuk dijalani.” Disini kita bisa belajar bahwa ketika kita tidak bisa melakukan refleksi pribadi atas diri sendiri maka tidak mungkin kita bisa mengetahui apa kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri kita.

Penutup

Tulisan ini kemudian tidak bertujuan untuk menilai atau menghakimi kedua calon ketua yang saya sebutkan di atas tapi ini juga sekaligus menjadi refleksi buat diri saya dan kita semua bahwa ketika ditanyakan pertanyaan mengenai kelebihan yang kita miliki, kita pernah menjawab seperti jawaban yang mereka berikan. Saya pernah melakukannya juga. Selamat menyadari kekuatan dan kelemahan kita karena hal tersebut yang membuat kita menjadi manusia.

@amavolta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s