Menulis dan mengenal diri

Browne,_Henriette_-_A_Girl_Writing;_The_Pet_Goldfinch_-_Google_Art_Project
Sumber gambar : http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Browne,_Henriette_-_A_Girl_Writing;_The_Pet_Goldfinch_-_Google_Art_Project.jpg

Pada umumnya seseorang menulis karena beberapa hal. Menulis mengenai pengalaman hidup, menulis untuk menjelaskan sesuatu atau memberikan informasi mengenai suatu kejadian, menulis karya ilmiah dan menulis tentang hal-hal menarik yang berkaitan dengan hobi atau kesukaan. Namun apakah menulis hanya bertujuan untuk membagi pengalaman, karya ilmiah atau menulis hanya berkaitan dengan penyampaian informasi dan hobi?

Gnothi Seauton”, adalah salah satu frase yang sangat saya sukai. Frase ini diucapkan oleh Socrates dan merupakan suatu ajakan untuk seluruh umat manusia untuk mengetahui diri mereka sendiri dan melakukan kebajikan dalam hidup bersama dengan orang lain.

lalu, muncul dalam pikiran saya mengenai pertanyaan ini;

Bagaimana menulis dapat membantu perkembangan diri anda dan saya atau membantu kita mengenal diri?

Pertanyaan iniberputar di dalam otak saya. Saya berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini. Dengan ilmu yang saya pelajari, bisa saja saya menjawab bahwa menulis membantu saya dalam mengenal emosi-emosi saya dan hal itu membantu saya juga mengenal diri saya, namun apakah itu cukup? Bagi saya jawaban ini terlalu biasa. Pertanyaan selanjutnya adalah emosi yang seperti apa? mengenal diri itu seperti apa?

Menulis dan perkembangan diri

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya teringat pengalaman unik bersama dengan teman-teman yang mengambil kelas konseling dan psikoterapi. Dalam pengalaman saya menjadi asisten mata kuliah konseling dan psikoterapi selama ± 3 tahun, teman-teman  yang mengambil kelas ini harus melakukan praktek konseling dengan orang lain sebagai tugas mata kuliah. Mereka melakukan semacam simulasi dimana mereka menjadi konselor dan klien kemudian mereka menulis refleksi sebagai konselor dan klien. Simulasi yang berlangsung 3 kali (2 kali dengan terapi ala rogerian dan 1 kali dengan terapi kognitif) sangat menarik. Ketika saya sebagai asisten memeriksa dan memberikan feedback khususnya untuk refleksi yang mereka tulis, saya menemukan suatu perkembangan diri dari setiap mahasiswa yang benar-benar serius dalam mata kuliah ini.

Awalnya dalam menulis refleksi, mereka menulis perasaan seperti gugup, takut, cemas dan perasaan-perasaan lain secara umum yang menggambarkan bagaimana ketika mereka bertemu dengan konselor secara langsung, sekalipun yang berperan sebagai konselor tersebut adalah teman mereka sendiri. Namun, seiring dengan berkembangnya proses mereka dalam konseling, mereka mulai bisa menulis tentang bagaimana emosi-emosi ini bisa mempengaruhi hidup mereka dan berkaitan juga dengan pengalaman mereka di masa lalu dengan orang lain (significant others). Pengalaman-pengalaman ini ada yang menyakitkan dan membahagiakan namun hal yang paling penting adalah mereka bisa menyadari pengalaman-pengalaman tersebut dan bagaimana mereka menulis emosi-emosi mereka mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain. ini adalah suatu perkembangan diri yang unik dimana mereka bisa memahami diri mereka sendiri dan mengenal emosi-emosi yang selama ini mereka lupakan namun nyatanya ada dalam pribadi mereka.

Marah, jengkel, benci, cemas, senang, sedih, gembira, bahagia adalah emosi-emosi yang ada dalam diri mereka dan pengalaman mereka secara pribadi yang bukan saja mereka tuliskan tapi mereka juga menjelaskan darimana mereka bisa merasakan emosi tersebut dan apa konsekuensinya serta dampaknya bagi orang lain. Perkembangan diri inilah yang secara nyata saya lihat dalam diri mahasiswa-mahasiswi yang serius membuat refleksi dari tugas yang diberikan dan kesadaran ini mereka peroleh ketika mereka mulai menulis.

Menulis sebagai alat untuk mengekspresikan emosi

James W. Pennebaker, dalam studinya menemukan bahwa menulis menolong individu untuk bisa mengatasi kesulitan emosi yang dihasilkan dari pengalaman traumatik dan permasalahan yang lain Studi yang dilakukan oleh Pennebaker ini juga menghasilkan beberapa instruksi atau metode menulis sebagai salah satu tujuan untuk mengatasi stres, kesulitan mengenal emosi dan kenangan-kenangan yang menyakitkan (Compton, 2005).

  1. Tulislah hal-hal yang saat ini berpengaruh pada hidup kita. Pikirkan kejadian apa yang penting dalam hidup kita. Menulis mengenai hal tersebut dapat membantu kita.
  2. Ketika membuat tulisan, tulislah di lokasi yang membuat kita nyaman dan terhindar dari segala macam gangguan. Lokasi yang spesial akan sangat membantu kita dalam mengembangkan tulisan yang baik.
  3. Ketika menulis, jangan terlalu pikirkan mengenai tata bahasa, atau kualitas dari tulisan (kita tidak sedang mengikuti lomba menulis karya ilmiah) tulislah apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita, kemudian baca kembali.
  4. Ketika menulis mengenai suatu kejadian atau situasi, tulislah apa yang terjadi dan bagaimana perasaan anda mengenai situasi tersebut. Cobalah untuk explore secara mendalam emosi apa yang muncul saat situasi itu terjadi. Tulislah emosi yang negatif dan positif yang dirasakan, namun akan lebih baik jika kita bisa memberikan porsi yang lebih untuk bisa melihat hal-hal positif dari setiap kejadian yang kita alami.
  5. Akan sangat membantu jika apa yang kita tulis bersifat pribadi, tidak perlu kita bagikan semua yang kita tulis pada orang lain (karena ada beberapa tulisan yang mungkin terlalu personal sehingga tidak perlu untuk dibagikan). Berpikir untuk (harus) membagikan apa yang kita tulis pada orang lain mungkin akan menghambat kita untuk bisa menulis.
  6. Ingat, bahwa setiap kali kita menulis kita mungkin akan merasakan kesedihan atau emosi yang lain. khusunya untuk situasi yang sulit,tidak ada seorang pun yang bisa mengekspresikan situasi yang sulit dalam hidupnya tanpa mengalami perasaan yang negatif. Namun, beberapa orang mungkin akan merasakan munculnya perasaan negatif tersebut secara singkat. Untuk beberapa orang yang lain, perasaan negatif yang muncul (mungkin) akan bertahan berhari-hari. Jika perasaan negatif tersebut sangat kuat dan bertahan dalam jangka waktu yang lama maka cara yang terbaik adalah mencari bantuan profesional (psikolog, konselor atau mentor).

Sekarang kita bisa melihat bahwa menulis bisa membantu kita untuk mengenal siapa diri kita dengan lebih mendalam. Selamat menulis, selamat mengenal diri.

Referensi

Compton, W.C. (2005). An introduction to positive psychology. Belmont, CA: Thomson Wadsworth.

11 thoughts on “Menulis dan mengenal diri

      1. 🙂 Belum bro masih di #Bali ne Be ju ganti kampus destinasi soalnya yg di Adelaide tu sudah sonde ada minor thesis di akhir studi nanti… Be jadinya ke Uni of Melbourne.. Di akhir studi master ada reserach yang bisa jadi stepping stone buat ke Ph.D bro🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s