Suatu kesadaran empati-psikologis

Sebelum anda membaca artikel ini, bacalah tulisan saya tentang review workshop anak berkebutuhan khusus

Ben Wright and his two child
Ben Wright and his two child

Beberapa waktu belakangan ini, saya menemukan banyak yang meng-update status di facebook atau tweet di twitter mengenai berbagai macam hal. Saya sangat menikmati hal-hal tersebut. Pada kenyataannya ada beberapa status update dan tweet yang memberikan informasi, memberikan kata-kata motivasi serta ada juga yang sekedar mengutip syair-syair lagu ataupun puisi. Hal ini sangatlah positif dan memang merupakan suatu hal yang baik, namun disisi lain saya juga tidak memungkiri bahwa dari dua social network yang saya ikuti, Facebook dan twitter ada juga yang menulis lebih kepada arah melabelkan diri atau memberi label pada orang lain dengan cara negatif.

Beberapa diantara followers saya bahkan menulis tweet yang seperti ini: ‘saya autisme’, ‘kamu itu retardasi mental’, ‘tugas-tugas ini membuatku terkena schizophrenia’, dan ‘dosen saya sepertinya ADHD’. Inilah yang saya maksud sebagai salah satu pelabelan diri negatif di dunia maya dan dalam perspektif psikologi kongnitif-perilaku, pelabelan diri yang negatif merupakan salah satu distorsi kognitif.

Suatu kesadaran

Memberi label negatif kepada diri sendiri  ataupun memberi label negatif kepada orang lain merupakan suatu hal yang kurang dewasa dan rentan terhadap konflik, entah itu konflik dengan diri sendiri dan konflik dengan orang lain. Hal yang lebih lanjut yang harus disadari adalah menggunakan istilah-istilah seperti autisme, ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), schizophrenia dan retardasi mental ataupun istilah gangguan klinis lainnya dengan tujuan bercanda haruslah kita hindari. Istilah-istilah itu merupakan gangguan yang digunakan (hanya) jika seorang pasien sudah melalui proses pemeriksaan oleh para ahli (dokter ataupun psikolog).

Kita harus berempati kepada mereka yang terdiagnosa memiliki gangguan seperti autisme, ADHD, dan retardasi mental bahkan schizophrenia. Mereka memiliki pergumulan yang sangat hebat dalam menjalani hidup dan beban ini bukan saja mereka alami sendiri tapi dialami oleh keluarga, dan kita malah memposisikan diri sebagai orang ‘normal’ yang menggunakan beban mereka sebagai bahan bercandaan terhadap orang lain ataupun diri sendiri untuk mendapat perhatian. Hey, sadarlah!

Adalah baik jika kita tidak menggunakan gangguan-gangguan klinis sebagai suatu bahan bercandaan dan kita merasa itu baik-baik saja tapi cobalah kita mengambil kesadaran untuk berempati terhadap mereka yang mengalami gangguan-gangguan tersebut. Inilah suatu kesadaran yang harus kita capai untuk membuat kehidupan lebih baik, kehidupan yang saling peduli terhadap satu dengan yang lain sebagai manusia. Selamat merayakan kesadaran ini.

Autism is not a joke !

Schizophrenia is not a joke !

ADHD is not a joke !

Mental retardation is not a joke !

Video-video ini bisa membantu kita mencapai kesadaran tersebut:

3 thoughts on “Suatu kesadaran empati-psikologis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s