Homo homini lupus – manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain?

Homo homini lupus – manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain?

tawuran-pelajar2_full
link gambar : –> sini

Mungkin pertanyaan di atas ada dalam otak saya ketika membaca berita mengenai tawuran antar pelajar di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tawuran yang dilakukan antar dua sekolah di Kupang ini merupakan suatu hal yang tragis bagi pendidikan NTT yang masih rendah, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula – prestasi pendidikan sudah minim, menelan korban jiwa pula. Miris mendengar berita tersebut dan kemudian muncul pertanyaan yang (sebenarnya) saya takutkan yaitu: “apa yang telah anda buat ?”

Baik, menurut saya kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan akan melibatkan banyak faktor, jadi tidak ada faktor tunggal yang menyertainya. Kekerasan atau tawuran dalam dunia pendidikan bisa terjadi karena iklim sekolah yang memungkinkan terjadinya perilaku tersebut, masalah dalam lingkungan keluarga masing-masing siswa, proses pencarian jati diri siswa yang berawal dengan dibetuknya kelompok teman sebaya serta masalah finansial bahkan masalah cinta dan persahabatan dengan alasan solidaritas. Faktor-faktor ini kemudian memunculkan perbedaan. Perbedaan yang membedakan bahwa ini ‘aku’ dan itu ‘kamu’. Perbedaan ini bukan saja sampai pada tahap individu melainkan meluas pada tahap kelompok – ‘aku SMA x’ dan ‘kamu SMA k’.

Tidak jarang dalam pengenalan akan suatu identitas kelompok maka akan menimbulkan prasangka. Prasangka satu kelompok terhadap kelompok yang lain akan menghambat komunikasi sehingga tidak ada lagi penyelesaian masalah dengan metode dialog, karena dialog butuh komunikasi dan kalo sudah begini maka adu otot bisa saja tidak terelakan.

Terapi kelompok sebagai salah satu cara memahami perbedaan dan mengurangi prasangka

group therapy
link gambar: –> sini

Hampir 80% masalah yang manusia hadapi dalam hidup berhubungan dengan relasi/hubungan. Hubungan antar satu individu dengan individu yang lain, bahkan hubungan antar satu kelompok sekolah dengan kelompok sekolah yang lain. Permasalahan dalam relasi ini kemudian mempengaruhi cara pandang sehingga bisa saja kelompok yang satu melihat kelompok yang lain dengan prasangka dan kecurigaan.

Agak serba salah ketika menangani pelajar yang tawuran dengan menjebloskan mereka ke kantor polisi dan melihat mereka sebagai persona non grata – atau orang yang tidak disukai. Saya pikir cara seperti ini akan membuat mereka stress, namun ada beberapa kasus tawuran yang erat kaitannya dengan perilaku kriminal sehingga dibutuhkan penanganan secara hukum. Hal semacam ini baik namun sebelum itu marilah kita berpikir kembali apa sebenarnya yang menjadi motif dasar atas perilaku mereka.

Saya percaya bahwa para pelajar ini juga masih memiliki hati sebagai manusia dan mereka butuh situasi penerimaan. Untuk itu cara terbaik yang saya pikir bisa dilakukan adalah dengan mendudukan kelompok-kelompok sekolah yang terlibat tawuran dalam suatu situasi dimana mereka bisa merasa diterima dan bebas menceritakan masalah yang mereka alami. Mereka bebas menceritakan siapa diri mereka, siapa keluarga mereka dan bagaimana cara mereka memandang orang lain tanpa merasa dihakimi. Situasi penerimaan seperti ini umunya bisa dijumpai dalam situasi terapi.

Peran ini bisa diambil oleh para guru Bimbingan konseling (BK) di dua sekolah yang bertikai. Guru-guru ini bisa ambil inisiatif untuk membagi beberapa kelompok dan dalam setiap kelompok terdiri dari 11-15 orang dari dua sekolah yang bertikai serta di pimpin oleh satu leader, dalam situasi seperti ini leader hanya berfungsi menciptakan situasi penerimaan dan tanpa prasangka. Bisa kita bayangkan bagaimana jika dalam situasi tersebut siswa yang berasal dari sekolah A bercerita tentang masalah yang dialaminya lalu kemudian disampingnya ada siswa dari sekolah B yang memberinya dukungan untuk bisa melalui masalah, sekalipun ada sejarah yang kelam antar dua sekolah tersebut.  Karena ada iklim penerimaan maka empati akan tumbuh. Jika empati tumbuh maka prasangka akan berkurang.

Saya pribadi masih punya harapan buat pendidikan NTT. Bagaimana dengan anda?

Saya masih percaya bahwa manusia bukan menjadi serigala bagi manusia yang lain. Dengan iklim penerimaan yang dibangun maka manusia bisa menjadi diri mereka sendiri. Bagaimana dengan anda?

3 thoughts on “Homo homini lupus – manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s