Les Misérables: Malu akan masa lalu

Les-Misérables-Soundtrack-Album-Cover-597x597
poster les miserables: gambar diambil di sini

Director   : Tom Hooper

Stars  :  Hugh Jackman (Jean Valjean), Russel Crowe (Javert), Anne Hathaway (Fantine), Amanda Seyfried (Cosette), Sacha Baron Cohen (Thénardier), Helena Bonham Carter (Madame Thénardier), Eddie Redmayne (Marius), Samantha Barks (Éponine).

Novel atau karya sastra yang biasanya dinikmati dengan membaca, akan sangat terasa berbeda ketika kita melihat secara visual apa yang dialami oleh karakter-karakter yang terdapat dalam novel tersebut.  Mereka seakan hidup dan berbicara langsung kepada kita melalui akting dan penampilan yang emosional. Saya mengambil kesimpulan ini ketika dalam dua bulan terakhir (Desember 2012 dan Januari 2013), saya menonton film yang diangkat dari novel. Film-film itu antara lain adalah Life Of Pi, The Hobbit dan yang terakhir adalah Les Misérables karya Victor Hugo. Namun, dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai pengalaman dan perasaan saya ketika menonton film yang terakhir, Les Misérables.

Alasan kenapa saya memilih Les Misérables daripada dua karya sastra yang lain adalah karena saya sudah membaca novel, menonton film dengan judul yang sama  yang rilis tahun 1998 silam dan menonton konser 25 tahunnya yang terkenal. Saya belum pernah membaca novel karya Yan Martel, Life Of Pi dan juga saya belum habis membaca novel  The Hobbit  karya  J. R. R. Tolkien meskipun filmnya sudah saya nonton awal januari lalu.

Les Misérables bercerita mengenai seorang tahanan yang bernama Jean Valjean (Jackman) yang dihukum karena mencuri roti. Karena kesalahannya valjean harus dipenjara selama 19 tahun. Ketika masa tahanannya selesai, valjean tidak bebas begitu saja, ia harus hidup dengan cap sebagai persona non grata yang wajib lapor. Valjean pun melanggar pembebasan bersyaratnya dan menjadi buronan inspektur Javert (Crowe). Dalam pelariannya, Valjean bertemu dengan seorang pastor yang kemudian merubah hidupnya. Valjean kemudian ‘lahir baru’ sebagai seorang walikota yang baik dan hidup dalam nilai-nilai kristiani. Valjean juga bertemu dengan Fantine (Hathaway), seorang buruh pabrik serta Cossete (Seyfried) anak dari Fantine yang kemudian dirawat oleh Valjean. Orang-orang ini kemudian menjadi significant other(s) yang membantu proses hidup valjean dan membawanya memaknai hidup.

les-miserables-7
Jean Valjean (Hugh Jackman): Gambar diambil di sini

Film arahan sutradara pemenang Oscar, Tom Hooper (King Speech) yang berdurasi 157 menit ini memang lain jika dbandingkan dengan film Les Misérables arahan sutradara kelahiran Denmark, Bille August yang rilis tahun 1998. Bedanya apa? Film Les Misérables arahan Hooper merupakan film drama-musikal yang semua percakapan di film ini dilagukan sedangkan film arahan August merupakan film yang full pembicaraan.

les miserables still 300512
Fantine (Anne Hathaway): Gambar diambil di sini

Menariknya, ketika saya menonton film Les Misérables arahan Hooper sampai beberapa hari kemudian lagu-lagi seperti I Dreamed a Dream, yang dinyanyikan begitu emosional oleh Fantine (Hathaway) masih terngiang di telinga saya bahkan sampai membuat tulisan ini. Saat Hathaway menyanyikan lagu itu saya sempat menutup mata dan mencoba merasakan emosi melalui suara Hathaway dan wow..sensasinya luar biasa. Saya merasakan hal yang memalukan yang terjadi pada Fantine terjadi pada diri saya. Belum lagi ketika Valjean (Jackman) menyanyikan lagu Who am I, lagu itu kembali menyadarkan saya bahwa pertanyaan itu sangat penting untuk ditanyakan dalam diri.

Apa yang saya pelajari dari Les Misérables (2012)?

Jika ditanya apa yang saya pelajari dari menonton film ini maka saya akan menjawab bahwa saya belajar menghayati film melalui musik namun yang lebih penting adalah saya belajar kehidupan. Kenapa?  Ya, lihat saja kesamaan dari Jean Valjean, Fantine dan Javert yang bergumul dengan perasaan malu. Bukankah perasaan malu merupakan suatu kompleksitas yang seing kita jumpai dalam kehidupan?

Saat melihat dan mendengarkan Fantine (Hathaway) menyanyikan lagu I Dreamed a Dream, saya berpikir bahwa dia menyanyikan lagu tersebut dengan perasaan malu setelah dia memutuskan untuk menjadi pelacur agar bisa membayar utang-utangnya kepada keluarga Thénardiers (Cohen & Carter). Dengan melakukan kewajiban tersebut maka dia bisa menjadi ibu bagi Cosette. Disini kita akan melihat perjuangan seorang ibu yang meskipun penuh dengan hal yang memalukan tapi dia tetap berusaha untuk bisa bersama dengan anaknya. Anda juga akan melihat bahwa hal-hal tersebut sering terjadi dalam masyarakat kita, suatu keadaan sosial yang sering dicap sebagai perilaku amoral yang memalukan tapi disamping itu anda akan melihat bahwa orang-orang yang terpaksa menjalani kehidupan amoral tersebut melakukannya dengan suatu alasan yang melampaui finansial. Ya, alasan untuk tetap bersama dengan orang yang dikasihi.

les-miserables-universal01
Inspektur Javert (Russel Crowe): Gambar diambi di sini

Di sisi yang lain ada karakter Valjean yang bergumul untuk memulai hidup baru sebagai seorang yang tidak memiliki embel-embel penjahat. Namun apa daya masa lalu terus menghantui dan mengejarnya sebagai seorang kriminal. Masa lalu yang terus mengejar Valjean ini muncul karena Valjean malu terhadap masa lalunya, dia tidak ingin orang lain tau siapa dia di masa lalu, pada titik ini Valjean juga menjadi benci dengan dirinya sendiri.  Karakter Javert juga menggambarkan hal yang sama yaitu malu terhadap masa lalu meskipun apa yang dilakukan oleh Javert dan Valjean berbeda. Valjean menyatakan rasa malu terhadap dirinya sendiri sedangkan Javert memproyeksikan rasa bersalah dan malu kepada diri Valjean. Disamping itu Insepktur Javert juga malu untuk mengakui masa lalunya dimana dia lahir di penjara dari seorang ayah narapidana sehingga dia memproyeksikan perasaan-perasaan ini kepada penjahat bernama Valjean dan menjadi seorang penegak hukum. Pengalaman di masa lalu inilah yang mempengaruhi sikap dan perilaku Javert terhadap Valjean.

Kehidupan yang dialami oleh tiga tokoh sentral dalam Les Misérables mungkin juga kita alami. Kita mungkin pernah merasa malu terhadap masa lalu yang berkaitan dengan siapa kita, siapa keluarga kita, dan apa yang kita telah kita lakukan, namun rasa malu terhadap pengalaman-pengalaman tersebut jangan sampai merusak harapan dan relasi kita dengan orang lain. Kita bisa melihat  bahwa ketika Valjean mengakui siapa dia sebenarnya di masa lalu kepada orang lain yang bisa menerimanya maka ketika itu cinta dan harapan akan tumbuh.

Selamat mengakui masa lalu kita tanpa rasa malu.

2 thoughts on “Les Misérables: Malu akan masa lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s