Bunga mawar dan esensi kehidupan

Waktu makan malam, saya dan seorang teman pergi ke salah satu  tempat makan. Di tempat makan itu saya bertemu dengan teman-teman saya yang lain, mereka sedang merayakan pesta ulang tahun. Mereka begitu bergembira. Karena saya mengenali mereka maka saya pun ikut bergembira, ikut merasakan kegembiraan teman yang berulang tahun. Namun, saya memutuskan untuk tidak duduk dan makan bersama mereka karena saya datang dengan teman yang lain. Saya memilih untuk duduk di meja yang kosong.

Sementara kami menunggu makan malam kami, salah seorang dari rombongan yang sedang merayakan pesta ulang tahun di meja sebelah, datang menghampiri saya dan memberikan saya bunga. Bunga mawar, yang satu mawar merah dan yang lainnya mawar putih. Indah

Bunga mawar merupakan bunga yang paling banyak ditemukan dalam sebuah perayaan. Digunakan sebagai simbol cinta dan penghargaan serta merupakan arketip dalam alam bawah sadar manusia. Paling tidak hal inilah yang saya ketahui. Ketika saya menerima bunga mawar hasil pemberian teman saya, saya kemudian mencoba merenungkan apa yang bisa saya pelajari dari bunga mawar ini?

Ketika sampai di kos, saya lalu menyalakan laptop dan browsing. Saya ingin mencari tahu kenapa bunga mawar menjadi terkenal. Banyak sekali sumber yang menceritakan sejarah mengenai bunga mawar, bagaimana bunga mawar digunakan untuk menyatakan cinta, makna dari masing-masing warna bunga mawar dan lain-lain. Saya merasa tidak begitu puas dengan apa yang saya temukan di internet mengenai bunga mawar. Dalam hati saya merasa bahwa jika saya harus merenungi bunga mawar yang baru saja saya dapat, lalu kenapa saya menyibukkan diri dengan mencari tahu di internet? Itu bukan hasil renungan jika saya menulis tentang bunga mawar yang saya peroleh dari internet. Melakukan perenungan harus berasal dari diri sendiri. saya terdiam.

Dalam keheningan itu saya kemudian mencoba untuk tenang dan diam. Saya menutup laptop, mematikan lampu kamar dan menutup mata. Saya mencoba untuk hening sesaat. Kata St. Benediktus, “Hening dan mendengarkan bermanfaat bagi pemuridan”. Saya menjadi murid dan keheningan adalah guru. Saya memusatkan pikiran pada situasi saat teman saya memberikan bunga mawar tersebut. Saya memperhatikan tiap hembusan nafas yang keluar ketika saya hening. Mencoba mendengarkan suara yang selama ini diabaikan oleh banyak manusia. Suara hati.

Tak lama kemudian saya mendengarkan suara tersebut.

Suara ini berbicara tentang beberapa hal, diantaranya:

  • saya tidak boleh memikirkan tentang bunga mawar. Itu hanya objek dari sebuah pemberian. Banyak orang di dunia ini selalu berfokus pada barang pemberian dan akhirnya mereka melupakan apa yang menjadi  esensi dari hidup. Jangan memikirkan itu. Jangan!
  • Jangan juga memikirkan tentang orang yang memberi atau sang pemberi. Itu tdak akan memberikan arti apapun. Terkadang ketika kita mengetahui siapa yang memberi, kita kemudian akan melupakannya. Lebih parahnya, kita tidak hanya melupakan orang yang memberi tapi melupakan esensi kehidupan. Jangan! Sekali lagi jangan.

Saya tersadar dan membuka mata. Hmmm….ada benarnya hal tersebut. Lalu apa yang menjadi esensi kehidupan ini? dengan penuh tanya, saya lalu menutup mata dan hening. Kembali mengatur nafas dan berusaha mendengarkan suara hati. Saya mendengar pesan terakhir dari suara hati:

  • Ingatlah sikap memberi. Itulah esensi dari kehidupan ini. hidup adalah soal memberi dengan ikhlas dan tulus sebagaimana seorang teman memberi nyawanya buat teman yang lain. Dengan sikap memberi maka tidak ada tempat lagi buat ego untuk bertumbuh di dunia. Marilah memberi, apa yang mampu kamu beri dan bagaimana caramu memberi. Perhatikanlah itu!

Saya membuka mata, kemudian saya mengingat sikap memberi yang ikhlas dan tulus yang selama ini telah saya alami, seketika itu juga saya mengingat masing-masing dari mereka, mengingat setiap nama mereka dan barang yang mereka beri.

Salatiga, 25 Juli 2012

white rose meet red rose🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s