Mengharapkan lampu merah

sumber gambar di sini

Kamis,18 Januari 2010 merupakan pengalaman hidup yang berharga bagi saya, Lista dan Merly. Dalam kesibukan sehari-hari sebagai mahasiswa yang selalu menghabiskan dan mencurahkan pikiran di Kampus dan ruang-ruang kelas yang statis, saya terkadang merasa bosan namun tanpa sadar saya repress kebosanan tersebut pada alam bawah sadar sehingga yang muncul dari diri saya adalah (kelihatan) menikmati semua rutinitas itu. Apa yang saya tuliskan ini merupakan insight yang saya alami sebagai suatu hal berharga di luar rutinitas sebagai mahasiswa psikologi. suatu pengalaman yang tidak dapat saya rasakan di gedung dan kelas-kelas kuliah. Suatu pengalaman yang tidak akan saya repress namun akan saya syukuri.

Waktu itu saya dan Merly bertugas untuk mengambil data anak-anak jalanan di salatiga tapi khususnya yang berada di jalan kauman (depan Kampus) dan Jetis. Pengambilan data ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anak-anak jalanan di Kota Salatiga. Kami berencana bertemu dengan mereka siang hari namun karena ada razia dan segala macamnya jadi kami hanya bisa bertemu dengan anak-anak jalanan di kauman dan Jetis pada malam hari, karena menurut informasi, mereka (anak-anak jalan) jika dalam musim razia hanya akan keluar di malam hari.

Akhirnya saya, Merly dan Lista pergi ke Kauman untuk bertemu dengan anak-anak jalanan dan mewawancarai mereka, tapi kemudian di Kauman tidak ada satu pun orang yang kami temukan disana. Akhirnya, kami bertolak ke Jetis, ketika sampai di perempatan lampu merah Jetis kami melihat ada dua orang anak jalanan yang sedang mengamen, kami pun memutuskan untuk bertemu dengan mereka .

Karena kami belum mengenal mereka sama sekali, ada perasaan takut dan ragu yang menyelimuti kami. Kami  memutuskan untuk berdoa. Kami berdoa di bawah lampu lalu lintas Jetis. Setelah mendapat keberanian kami pun pergi menghampiri mereka dan memperkenalkan siapa dan apa tujuan kami.

Ternyata bukan cuma 2 orang saja yang ada disana tapi 4 orang anak jalanan. Mereka sangat ramah dan dengan cepat memperkenalkan diri mereka. Dengan perkenalan yang singkat tersebut kami pun bisa bercerita sambil mewawancarai mereka. data wawancara yang kami dapat lumayan banyak. Setelah itu kami pun menghabiskan waktu untuk duduk dan bernyanyi bersama mereka di pinggir jalan.Ketika melihat teman-teman mengamen dan dapat uang, Lista berkata bahwa dia ingin mencoba mengamen bersama mereka, ide itu kemudian di setujui oleh saya dan Merly.

Kami pun akhirnya latihan lagu dari slank, dangdut dan berbagai jenis lagu lain, tapi kemudian kami semua terdiam ketika salah seorang dari mereka memainkan gitar kecil dan menyanyikan lagu rohani. Saya melihat rasa penasaran yang begitu besar dari mata Mey dan Lista sehingga mereka langsung duduk mendekat dan bernyayi bersama ‘teman baru’ kami.Teman kami itu kemudian bertanya, ‘ada yang tahu lagu BAPA YANG KEKAL’?, saya pun terkaget mendengar pertanyaan itu dan hanya bisa memberikan jawaban melalui bahasa tubuh yang kira-kira artinya ‘ya’.

Setelah selesai latihan, kami memutuskan  akan mengamen bersama mereka. Saat itu Lista berkata pada saya dan Mey bahwa kita harus mendapatkan setidaknya Rp.5000,-

OK. Lampu merah yang kami harapkan pun tiba,akhirnya kami memulai aksi dengan mengamen. Saya, Lista, Mey dan Ari (salah satu anak jalanan). Kami mengawali dengan menyanyikan lagu rohani..yah…menyanyi di depan truk…kemudian kaca pun terbuka dan seorang bapak memberikan uang…saya sendiri begitu bahagia dan perasaan bahagia tersebut sulit saya gambarkan. Luar biasa. Waktu pertama kami  mengamen, kami kira-kira dapat Rp. 2.800,-

kami pun tidak sabar untuk aksi yang berikutnya, kami mengharapkan lampu merah agar terjadi kemacetan dan kami bisa mengamen (ya..kami berharap bahwa lampu lalu lintas selalu berwarna merah agar kami bisa lebih lama mengamen dan mendapatkan uang ).

Kami bertiga juga sempat merasa kecewa ketika kami mengamen dan tidak ada yang memberikan uang atau lampu hijau menyala dan lalu lintas pun kembali berjalan. Yah, mungkin itu yang dirasakan oleh teman-teman kami yang selama ini hidup di jalan,ketika uang untuk menyambung hidup mereka harus ditentukan dengan lampu lalu lintas (lampu merah). Jika lampu merah itu menyala dan banyak kendaraan yang berhenti, kemungkinan untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak sangat besar tapi jika tidak maka kesempatan itu hilang.

saya kemudian berpikir bahwa jika dalam hidup hanya ada lampu hijau,maka banyak kesempatan yang akan pergi dengan cepat. Mungkin kita juga perlu lampu yang lain yaitu lampu merah agar kita bisa dengan jelas melihat dan mencoba tiap kesempatan yang ada. Mungkin itulah harmoni dalam kehidupan atau mungkin kita memerlukan lampu kuning agar kita bisa memperhitungkan kesempatan yang mana yang akan menjadi milik kita…tapi kalau ditanya malam itu maka dengan jujur saya akan menjawab bahwa saya sangat MENGHARAPKAN LAMPU MERAH…

Malam itu kami berhasil mengumpulkan RP 5800,-. Perasaan bahagia itu bukan saja milik saya, tapi saya yakin, Lista, Mey dan teman-teman kami anak jalanan di Salatiga juga merasakan hal yang sama. Kami semua BAHAGIA. Bukankah kebahagiaan merupakan hal utama yang kita inginkan dalam hidup ini? Apa pun bentuknya, bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan, dan bukankah anda juga ingin bahagia?

Dan bagi ku:
Inilah Psikologi ketika kita menghargai manusia sebagai manusia, menghargai masa lalu mereka,dan merengkuh serta memahami mereka dalam perbedaan
Inilah Ekonomi ketika kebutuhan primer,sekunder dan tersier kita terpenuhi..
Inilah Teologi ketika kita memberikan yang lapar- makanan, yang haus- minuman, yang telanjang -pakaian, yang tidak memiliki tempat tinggal- Rumah.
Inilah Hukum ketika semua anak bangsa berhak dilindungi oleh negara seperti apa yang diatur oleh undang-undang. Dan
Inilah Hidup ketika kita semua dan seluruh orang dapat merasakan kebahagiaan dan membahagiakan satu sama lain serta mendapat kesempatan untuk bahagia…

sumber gambar di sini

Nb: Cerita ini sebelumnya sudah pernah saya publish di notes FB dengan judul yang sama, namun pada versi ini mengalami sedikit editan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s