Manfaat debat

sumber gambar di sini

Anda mungkin pernah berpikir atau pernah mengatakan pada diri sendiri dan orang lain “wah, malas aku ikut debat, psikologi kan butuhnya aplikasi bukan bacot doang, ngapain debat?”  Atau anda juga pernah  mengatakan bahwa anda tidak layak untuk ikut lomba debat karena itu hanya dikhususkan bagi orang-orang dengan IQ 125 ke atas sehingga anda tidak berani untuk belajar lebih bahkan yang lebih ekstrem adalah mengatakan bahwa diri sendiri lebih  bodoh dari orang lain dan tidak pantas.

Hal tersebut menurut saya adalah bentuk ­self-labeling yang negatif dan dalam teori kognitif  hal tersebut bisa menjadi distorsi yang kemudian akan mempengaruhi emosi/perasaan dan perilaku kita. Hmm… Lalu apa pentingnya berdebat?  Menurut saya dalam suatu perdebatan yang sehat ada 3 manfaat penting yang dapat kita peroleh. Berpikir, kerendahan hati,  dan refleksi diri.

Berpikir

Berpikir merupakan kegiatan kognitif. Semua orang melakukan kegiatan ini. Tua, muda, kaya, miskin, cantik, ganteng, laki-laki, perempuan, dosen dan mahasiswa. Semuanya berpikir, meminjam kata Descartes ‘saya berpikir, maka saya ada.’

Banyak orang cenderung terjebak pada pemahaman bahwa berpikir itu  merupakan suatu sifat bawaan yang tidak dapat diubah. Anggapan semacam ini tidak sepenuhnya benar. Kemampuan berpikir pada seseorang sejatinya dapat dirangsang melalui suuatu proses latihan (Manginbulude, 2009).  Dalam hal ini, debat merupakan suatu proses latihan yang dapat membantu kita untuk bisa berpikir secara kritis dan analitis serta mampu memberikan pemahaman yang baru.

Kerendahan hati

Seringkali kita menemukan suatu perdebatan berakhir dengan kericuhan. Chaos (kekacauan) yang terjadi diakibatkan karena semua merasa dirinya pantas menjadi pemenang. Tidak mau kalah. Lebih parah lagi perilaku tersebut ditunjukan oleh segelintir orang-orang yang memegang kebijakan, lihat saja anggota DPR yang kalau berdebat sampai mengangkat meja dan kursi, dan dilemparkan pada lawan bicaranya. Homo homini lupus, bukan?

Dalam perdebatan sikap rendah hati akan membawa kita melihat bahwa lawan bicara kita adalah sesama manusia. Sama derajat. Sikap rendah hati ini tidak melihat lawan bicara kita sebagai musuh yang setiap argumennya harus disalahkan, harus dipatahkan, bila perlu orangnya harus dibunuh supaya tidak lagi menyampaikan pendapatnya, dengan demikian kita yang keluar sebagai pemenang. Ini adalah sikap primitif dan kalau sampai dilakukan dalam dunia intelektual akan sangat berbahaya bagi akademisi, dimana ada anda dan saya.

Sikap kerendahan hati selalu berbicara mengenai keterbukaan, dan keterbukaan selalu siap hidup bersama dengan orang lain. Menerima pemikirannya, bahkan membantah pikirannya dengan tetap melihat lawan bicara sebagai manusia sehingga kita bisa menerima perbedaan. Inilah contoh keterbukaan. Dalam prosesnya, sikap terbuka akan mengahasilkan apa yang disebut dengan cinta. Bukankah indah jika suatu perdebatan dalam prosesnya diawali dengan kerendahan hati dan diakhiri dengan cinta? Dengan demikian kita tidak perlu angkat meja dan kursi untuk dilemparkan pada lawan bicara kita, karena ada cinta.

Refleksi diri

Socrates mengatakan ‘Hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas untuk dihidupi.’ Dalam berdebat, kita dilatih untuk melakukan refleksi diri.  Memaknai bahwa setiap argumen kita bertujuan untuk membuktikan kebenaran bukan membuktikan siapa yang kalah dan yang menang. Inilah bentuk kedewasaan diri yang akan mengubah hidup kita.

Proses refleksi diri ini harus juga berlangsung secara sadar dan kesadaran selalu melibatkan 3 hal yaitu kognitif, perasaan dan perilaku. Menyadari kenapa anda bisa berpikir demikian, menyadari bagaimana perasaan anda ketika lawan bicara menyampaikan argumennya dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi diri anda, dan menyadari perilaku anda terhadap lawan bicara, apakah perilaku yang anda tunjukan pada lawan bicara sesuai nilai-nilai humanis atau tidak. Bukankah indah jika kita merefleksikan semua hal yang kita alami? Adakah anda demikian dalam berdebat?

Referensi:

Mangimbulude, J. 2009. Melatih diri berpikir analitis-kritis. Disampaikan dalam pelatihan mentor Universitas Kristen Satya Wacana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s