Thank you for loving me

“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah,anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”. (Yohanes 19:26-27).

Mama.

Mungkin itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika masih kecil dan mungkin juga kata pertama yang keluar dari mulut anda. Beberapa orang sangat meyakini bahwa mama adalah sosok yang sangat penting dalam hidup. Dari mama kita belajar tentang kasih sayang dan kelembutan. Hmmm…mungkin itu spesialisasi seorang mama. Namun, saya juga harus jujur bahwa terkadang saya tidak tahan dengan sikap cerewetnya dan selalu mengkhawatirkan segala hal.

Berikut adalah cerita mengenai mama.

Beberapa minggu yang lalu, mama saya datang berkunjung ke Salatiga, tempat saya kuliah. Kunjungan itu lebih merupakan ancaman bagi saya karena di satu sisi saya berpikir bahwa mama pasti akan menanyakan mengenai skripsi saya yang tidak tahu kapan selesainya. Sakit memang. Di saat orang tua teman-taman datang menghadiri wisuda anaknya, mama saya datang justru untuk dihindari oleh anaknya sendiri. Berbagai alasan pun saya kemukakan, sampai akhirnya saya mencapai kesepakatan dengan mama. Satu hari. Ya, mama sepakat bahwa keberadaannya di Salatiga cuma satu hari tidak lebih dan tentunya saya yang membuat kesepakatan itu.

Sebenarnya tujuan kedatangan mama adalah ke Universitas Diponegoro, Semarang. Beliau mau memasukan tulisan ilmiahnya di Jurnal kelautan tapi masih menyempatkan ke Salatiga untuk melihat anak pertamanya. Malam itu, saya diminta mama untuk menemaninya di Asrama unit 1. Unit 1 merupakan gedung yang bisa di sewa oleh keluarga mahasiswa untuk menginap. Mama sengaja menggunakan kesempatan itu untuk mulai bertanya tentang skripsi. Dengan tenang saya beralasan bahwa saya mau tidur dan besok harus ke Semarang. Tanpa cerewet dan mempersoalkan sikap saya, mama pun berisitrahat.

Jujur, sikap saya terhadap mama membuat saya tidak bisa tidur. Saya hanya online lewat ponsel sambil diliputi rasa bersalah. Mama sudah tertidur lelap, dan sambil menatap dia tertidur entah kenapa saya mengalami perasaan kasih yang jarang saya rasakan. Kasih seorang anak laki-laki terhadap mamanya yang (mungkin) dulu pernah ada tapi sekarang sudah memudar. Saya menyadari itu. Kesadaran akan hal tersebut membuat saya mengalami perasaan bersalah lebih lagi.

Dalam keheningan dan berkecamuknya perasaan, saya menulis beberapa hal mengenai mama di salah satu social network:

  • melihat kerutan di wajah tuanya membuatku semakin menyayanginya meskipun sering sekali kita berdebat #mamatana
  • sekarang ia telah tertidur. Dalam tidur pun ia tetap menunjukan kecantikan meskipun kalau bangun ia menjadi cerewet #mamatana
  • menjadi cerewet atau tidak,dia tetap mama sya. Mungkin mnjd cerewt adalah tugas perkmbgan seorg ibu #mamatana
  • saat terlelap saya penasaran akan apa yg diimpikannya.hmmm.. Mgkin kelulusan anak pertamanya .. Hhahaha #mamatana
  • dengkuran mama saat tidur nyaris tak terdengar, beda dgn dengkuran papa yg bisa terdengar sampai ke sorga #mamatana
  • seperti ayat dalam naskah kuno yg menulis “inilah ibumu.” ya.. aku menyanginya krna ia adalah ibuku. #mamatana
  • Bukan papa, kakak atau namamu yg pertama kali trucap dr bibirku mlainkan kata MAMA #Mamatana
  • Mama bkan sja kata tp cinta. Berbahagialah engkau yg akan dan sdah mnjdi Mama. Engkaulah awal semua bahasa #mamatana

Setelah menulis apa yang saya rasakan saat melihat mama terlelap, saya kemudian bertanya pada diri sendiri. Haruskah saya merasa bersalah? Bukankah, dalam hubungan dengan orang terdekat harus ada konflik? Ya…sikap saya memang kurang ajar terhadap mama, tapi .. tapi ..itu sudah terjadi dan sekarang saya mengalami perasaan yang lain terhadap hubungan saya dengan mama. Perasaan kasih yang lain. Perasaan sayang yang baru. Rasa kesal tergantikan oleh rasa memiliki yang begitu dalam. Hmmm…entah kenapa perasaan-perasaan ini hadir.

Saya memutuskan bahwa besok pagi saya harus meminta maaf pada mama, Itu yang sempat terlintas dalam pikiran saya.

Saya memutuskan untuk minta maaf kepada mama, dengan catatan keputusan satu hari di Salatiga tidak berubah. Itu tetap keputusan final saya. Ya, memang setelah meminta maaf, keputusan itu tidak berubah dan saya tidak tahu juga kenapa saya tidak merubahnya untuk menunjukan kasih saya kepada mama, tapi yang saya sadari adalah diri saya berubah. Hubungan saya dan mama pun berubah menjadi lebih hangat. Itu yang saya sadari.

Di sinilah baru saya mengerti kenapa manusia harus diperhadapkan dengan titik kritis dan konflik, ya agar dia bisa berubah menjadi lebih baik dan bisa memahami dirinya serta hubungan dengan orang lain. Pertemuan satu hari saja sudah cukup untuk saya untuk bisa memandang mama dengan ekspresi kasih yang berbeda. Pertemuan satu hari saja sudah cukup untuk mengetahui bahwa ketika mama mengomel itu tandanya dia masih mengasihi saya. Pertemuan satu hari sudah cukup untuk membuat saya kembali sadar bahwa mama sangat mencintai saya.

Thank you for loving me… ya.. thank you for loving me mama.

Sama seperti lagu Bon Jovi.

Dan saya ingin sekali bahwa orang pertama yang akan saya ajak ke tepi kolam Trevi adalah mama dan bukan perempuan lain..mungkin ketika kita (yang laki-laki) bisa mencintai mama kita dengan sepenuh hati, barulah kita bisa membuka ruang hati kita yang lain untuk seorang perempuan yang nantinya akan mengasihi kita dengan kasih seorang mama. 🙂

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn’t see
For parting my lips
When I couldn’t breathe
Thank you for loving me

You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out
If I was drowning you would part the sea
And risk your own life to rescue me.

 

7 thoughts on “Thank you for loving me

    1. 🙂 makasih Adik🙂 saya juga baru membaca nya kembali dan tidak percaya bahwa saya menuliskan pengalaman ini :’)…. hehhee sayau juga tidak percaya bahwa saya bisa romantis juga :p ..sukses selalu buat Ester🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s