In a better world (Hævnen)

In a better world (Hævnen) 2010.

Sutradara : Susanne Bier.
Penulis cerita : Anders Thomas Jensen dan Susanne Bier.
Pemain : Mikael Persbrandt (Anton), Trine Dyrholm (Marianne), Ulrich Thomsen (Claus), Markus Rygaard (Elias) dan William Jøhnk Juel Nielsen (Christian).

Anton : ” Sometimes it feels, like there’s a veil between you and death, but that veil disappears, when you lose someone you loved or someone who was close to you and you see death clearly for a second, but later the veil returns and you carry on living, then things will be alright again “

Review:

                 Kehidupan memang suatu hal yang menarik untuk dijadikan ide dari sebuah film. Cinta, rasa bersalah, kekerasan, moralitas, relasi, dendam serta kekonyolon merupakan tema-tema dalam kehidupan yang sering difilmkan. Kita bisa menemukan tema-tema tersebut dalam setiap film. Tidak jarang tema-tema tersebut membantu mendongkrak nilai jual dan kesuksesan sebuah film, sehingga sutradara harus cerdas dalam menentukan alur dan tema kehidupan apa yang ingin digunakan dalam filmnya.

         Susanne Bier agaknya menyadari hal tersebut sehingga menjadikan In a better world sukses memenangkan nominasi best foreign language movie dalam academy award. Tema-tema kehidupan seperti moralitas, kekerasan, rasa bersalah, dan kehilangan menjadi sajian utama dalam film ini. Hævnen merupakan judul asli dari film ini, yang berarti revange atau balas dendam, namun judul tersebut kemudian diubah menjadi in a better world agar tidak terlalu ekstrim dan dapat memenuhi ekspektasi penonton. Bayangkan saja jika film ini memakai judul revange, penonton mungkin akan berpikir bahwa film ini adalah film bergenre action dan mengharapkan ada banyak kekerasan dan plot-plot yang diisi oleh adegan tembak-menembak atau bakupukul dan ketika menonton film ini penonton akan berpendapat bahwa film ini tidak lebih dari film drama romantis yang cengeng.. Ya, film ini tidak lebih dari sekedar film melodrama, untuk itu judul in a better world agaknya tepat menggambarkan film yang ‘hampir’ tidak menggambarkan adegan action atau baku-pukul dan lebih memfokuskan pergulatan batin setiap karakternya.

            Bier membuka film ini dengan landscape kamp pengungsian di Afrika yang kering dan berdebu, dimana Anton (Mikael Persbrandt) seorang dokter mengabdikan dirinya di kamp tersebut untuk bekerja. Sebagai dokter yang bertanggung jawab terhadap keselamatan pasiennya, Anton berusaha agar bisa optimal dalam membantu penyakit yang diderita oleh para pasien. Salah satu pasien yang ditangani Anton adalah seorang wanita yang menjadi korban kekerasan penjahat lokal yang terkenal dengan sebutan Big Man.

            Di tempat yang lain ada Christian (William Jøhnk Juel Nielsen), yang sedang jatuh dalam kesedihan karena kematian ibunya akibat kanker. Peristiwa kematian ibunya, membuat Christian menyalahkan sang ayah, Claus (Ulrich Thomsen). Peristiwa ini kemudian mengubah Christian menjadi orang tertutup dan selalu menghindar dari ayahnya karena menganggap ayahnya adalah laki-laki yang lemah dan merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kematian sang ibu.

            Elias  (Markus Rygaard) merupakan anak dari Anton (Mikael Persbrandt) dan Marianne (Trine Dyrholm), yang sehari-hari menjadi korban bullying teman-temannya di sekolah. Keterpisahan Elias dan Anton yang harus bekerja di kamp pengungsian secara tidak langsung mempengaruhi hubungan Elias dengan ibunya, Marianne. Elias menjadi individu yang tertutup dengan ibunya dan cenderung menunjukan perilaku tidak nyaman dalam hubungan ibu-anak. Sebagai seorang anak, Elias juga berada dalam posisi dilematis masalah hubungan ayah-ibunya yang berada diambang perceraian hal ini juga menjadikan Elias tumbuh menjadi pribadi introvert.

sumber gambar di sini

             Perkenalan Elias dan Christian terjadi ketika Christian melihat Elias di ganggu oleh sekelompok anak-anak nakal di sekolah. Christian akhirnya membantu Elias dan mengancam Sofus, salah seorang anak yang melakukan bullying terhadap Elias dengan pisau. Melalui kejadian ini hubungan teman sebaya pun berkembang antara Elias dan Christian. Mereka saling membangun rasa percaya satu dengan yang lain. Hubungan pertemanan mereka pun berkembang ke arah yang semakin dalam namun bersifat destruktif. Hubungan Christian dan Elias ini mengingatkan saya kepada film BOY A (2007) yang juga menggambarkan begitu kuatnya pengaruh teman sebaya.

            Film ini menjadi lebih menarik karena di sisi yang lain  kita dapat melihat konflik yang dialami Anton, ayah Elias. Anton adalah seorang dokter yang memiliki idealisme kemanusiaan namun idealisme ini kemudian membawa Anton pada situasi dilematis dan emosional. Situasi antara kemanusiaan dan kebaikan moral. Memang dalam film yang berdurasi 1 jam 57 menit terlihat fokus terhadap karakter Christian, Elias dan Anton namun peran Claus, ayah Christian dan Marianne, ibu Elias tidak bisa dipandang sebelah mata. Sekalipun porsi mereka sedikit namun mereka berhasil membangun suatu interaksi emosional yang luar biasa sebagai seorang ayah yang single parent dan ibu yang menderita akibat keadaan rumah tangganya.

Apa yang menarik?

            Bagi saya film ini menarik karena menceritakan pengaruh teman sebaya yang sangat kuat yang muncul dalam relasi antara Christian dan Elias. Dalam tahapan perkembangan manusia, pada usia remaja awal, teman sebaya memegang peranan dalam pembentukan identitas diri. Awal mulanya hubungan ini ialah persahabatan. Dalam persahabatan yang dibangun inilah muncul suatu konsep yang disebut dengan konformitas. Konformitas adalah suatu bentuk penyesuaian diri dengan melakukan perubahan perilaku sesuai dengan norma kelompok atau orang lain.

            Karena masa remaja merupakan masa krisis dalam perkembangan hidup manusia dan dalam masa ini hubungan yang dibangun adalah dengan teman sebaya maka pengaruh teman sebaya ini kian menjadi nyata dalam seluruh aspek kehidupan seorang remaja. Pada tahap perkembangan ini pula konformitas terjadi dengan frekuensi yang lebih tinggi daripada tahap perkembangan lainnya. Konformitas yang cukup kuat dapat mengakibatkan seorang remaja melakukan sesuatu yang destruktif atau melanggar norma sosial. Pola perilaku seperti inilah yang terjadi dalam hubungan antara Christian dan Elias dalam film In a better world. Kita bisa melihat bagaimana Elias dan Christian bekerja sama untuk membuat bom dan membalas dendam, meskipun sebelumnya Elias tidak setuju, tapi karena merasa ingin diterima akhirnya dia melakukan hal tersebut tanpa memikirkan dampaknya. Kondisi emosional Elias yang labil memungkinkannya untuk dengan mudah melakukan konformitas.

Kumpulan pertanyaan menuju suatu dunia yang lebih baik

            Selain pertemanan sebaya antara Elias dan Christian, bagi saya film ini sangat menarik untuk direfleksikan dalam bentuk pertanyaan. Oleh karena itu dalam mendedah film ini baiklah kita memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

·         Apakah suatu keadaan lebih baik jika kita membalas kejahatan dengan kebaikan? Dan apakah dendam itu dibutuhkan dalam dunia ini?

·         Mungkinkah seseorang yang baik sekalipun melakukan kejahatan? Apa yang menyebabkan hal tersebut?

·         Apa sekiranya yang membuat kita menjadi manusia?

·         Apakah ada harapan bahwa dunia akan menjadi lebih baik?

·         Apakah suatu dunia yang lebih baik justru muncul ketika kita mengalami krisis?

sumber gambar klik ini

Sama seperti Socrates, pertanyaan-pertanyaan ini tidak melulu akan menghasilkan suatu jawaban tapi bisa saja menimbulkan pertanyaan yang lain, dan dengan terbukanya kita pada setiap pertanyaan, kita bisa mewujudkan suatu dunia yang lebih baik. Dunia yang penuh dengan keterbukaan. Mungkinkah?

@amavolta

*Tulisan ini disampaikan pada dedah film kelompok diskusi interdisipliner. Salatiga, 17 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s