Doa, Nazar dan Inter Milan

Menjadi seorang fans tim sepak bola memang banyak suka-dukanya. Suka karena tim kesayangan kita berhasil menjuarai kompetisi dan memenangi banyak gelar dalam satu musim. Duka karena tim kesayangan kita kalah atau terdegradasi ke liga kelas 2. Sebagai seorang penggila bola, tentunya saya juga memiliki tim kesayangan. Tim yang paling saya suka dan sampai sekarang masih saya dukung adalah Internazionale Milano atau lebih dikenal dengan Inter Milan. ya.. tim yang subuh tadi menang melawan Olympique de Marseille, klub sepak bola dari perancis tapi tidak lolos ke perempat final Liga Champions Eropa. Hal tersebut merupakan duka bagi saya😦

Namun, dalam kedukaan tersebut saya kembali mengenang beberapa hal yang mungkin akan tergolong ‘lebay’ bagi beberapa orang tapi sangat ‘normal’ bagi kebanyakan penggila bola.  Salah satunya adalah doa bagi tim kesayangan kita agar terus menang. Dalam kasus ini, saya mendoakan Inter Milan.🙂 tentunya bukan saja doa, tapi suatu janji/nazar kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena janji ini dibuat oleh manusia, maka kadar bersyaratnya tinggi🙂.Misalnya: Tuhan kalau tim saya menang, saya tidak bolos kuliah lagi. Kalau tim saya menang besok saya akan rajin bangun pagi. Tuhan kalau tim saya tidak kalah, saya akan puasa 40 hari 40 malam (yang ini ekstrim sekaliii).. namun itulah yang terjadi… Anda juga mungkin menemukan perilaku-perilaku tersebut di antara teman-teman anda yang gila bola..🙂

DOA dan NAZAR

well, melihat hal tersebut saya juga ingin bercerita melalui apa yang saya alami dengan doa dan nazar🙂

Cerita ini sekitar tahun 2005-2006 waktu saya masih kelas 3 SMA.

Waktu saya di SMA saya tinggal di asrama. Karena tinggal di asrama maka kehidupan saya dan teman-teman diatur oleh waktu. Sekalipun tinggal di asrama, tidak membuat kami anak-anak asrama tidak bisa menonton bola, apalagi saat kelas 3 dimana saya dan teman-teman pada waktu itu merupakan ‘penguasa’ asrama. Kami yang membuat aturan.. Seperti biasa di asrama kami tiap harinya selalu ada misa pagi (ibadah pagi) di kapela sekolah dan kami wajib ikut. Namun saat itu merupakan minggu-minggu ujian dan bertepatan dengan liga champions (Inter vs Porto).

Saya dan beberapa teman yang menjadi fans Inter di asrama, sengaja bangun pagi-pagi dan menonton Inter bermain lawan Porto. Teman-teman yang lain bangun dan belajar, maklum hari itu adalah hari terakhir ujian. Saya merasa sia-sia dan jengkel ketika  tim kesayangan saya tertinggal 1-0 dari Porto. Melihat hal tersebut, beberapa teman memutuskan untuk pergi mengikuti misa dan beberapa yang lain belajar (tentu saja bolos misa). Saya sendiri menatap TV dan  tetap tidak ada perubahan skor. masih 1-0 untuk keunggulan Porto. Putus asa dan kekecewaan itulah yang saya rasakan, sampai-sampai saya tidak ingat bahwa ada misa dan ada ujian biologi. Kegelisahan itu ditambah  ketika saya mendengar lagu pembukaan dari kapela yang menandakan misa sudah dimulai. Dalam keputusasaan tersebut saya memutuskan untuk tidak mengikuti misa. Ketika membuat keputusan tersebut saya sedikit tenang karena teman-teman saya banyak juga yang bolos misa, mereka berkumpul di ruang tidur dan kamar pakaian untuk belajar.

Ruang TV di Asrama

Saya tetap menonton dan skor pun tetap 1-0. Saya tambah putus asa. Tambah galau. Di saat tidak tahu harus berbuat apa, dalam kegalauan saya pun memutuskan untuk berdoa. Berdoa dalam keputusasaan seorang tifosi Inter Milan. Saya ingat dalam doa tersebut saya mengatakan : ” Tuhan, jika Inter Milan cetak gol saya pergi misa meskipun terlambat“. Ketika menonton sekitar hampir 15 menit, tidak disangka Inter Milan mencetak gol melalui Ricardo Cruz.. Saat itu hanya kebahagiaan yang meliputi diri saya.. lompat-lompat kegirangan.🙂 saya pun tidak lupa dengan janji saya.. tanpa mandi atau cuci muka saya langsung berlari ke kapela meskipun misa hampir habis..🙂 saya ikut misa.. dan Inter mencetak gol 1-1.🙂

Kapela Sekolah

Cerita tidak berhenti sampai di situ, setelah pulang misa, saya cepat-cepat ke ruang TV dan melihat berita pagi di TV… saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat.. u know what? Inter menang 2-1 atas Porto. Dua gol kemenangan Inter dicetak oleh Cruz. FORZAAAAA INTERR n thx God, teriak saya..😀.

Namun, kesenangan ini tidak dirasakan oleh sebagian besar teman-teman kelas 3 di asrama.. ya, Bapak asrama tahu bahwa sebagian besar anak kelas 3 tidak ikut misa dan memang kelas 3  yang ikut misa pagi hanya sekitar 7 orang (termasuk saya yang datang paling terlambat). Teman-teman saya siang itu juga dikeluarkan dari asrama.. mereka sekitar 30 orang lebih.. saya merasa beruntung karena saya menepati janji pergi misa ketika Inter menyamakan kedudukan.  saya sempat berpikir apa jadinya kalau waktu itu saya tidak bernazar dan masih terus nonton TV? ckckckc. How Lucky i am.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa Hasil dari doa dalam keputusasaan tidak membuat kita putus asa.. Dalam sebuah doa yang dipanjatkan dengan keputusasaan pun adalah makna  kejujuran .

sampai sekarang ketika Inter bertanding saya pun selalu memanjatkan doa.. apa pun hasilnya.. saya tetap berdoa dan tetap seorang Interisti , bagaimana dengan anda?🙂

3 thoughts on “Doa, Nazar dan Inter Milan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s