FAITH ?

Dalam suatu acara pesta, saya mengajukan 3 pertanyaan kepada seorang teman:

  • Apa artinya Iman ?
  • Apa artinya seseorang beriman?
  • Bagaimana iman bisa terbentuk?

Teman saya tanpa ragu menjawab pertanyaan pertama mengenai arti iman yang dia kutip dari teks kitab suci: ‘Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.’ Untuk pertanyaan kedua, meskipun dia terlihat berpikir lebih keras dia pun menjawab bahwa ‘arti dari seorang beriman adalah meyakini bahwa sesuatu akan terjadi dengan persetujuan Tuhan Yang Maha Esa, jadi meskipun situasi buruk terjadi, kalau kita percaya kepada Tuhan, percaya bahwa selalu ada pertolongan Tuhan dalam hal yang buruk sekalipun, maka kita akan memperoleh kekuatan. Dengan demikian beriman berarti total kepada Tuhan, sekalipun kita dalam posisi sulit.’ Itulah yang dia katakan (seingat saya). Lalu untuk menjawab pertanyaan ketiga saya melihat kegelisahan mulai muncul dari raut wajahnya yang cantik, namun dia pun tetap menjawab. iman terbentuk dari perjumpaan kita dengan orang lain, misalnya waktu kecil orang tua mengenalkan kita pada sekolah minggu dan gereja, sehingga iman kristiani pun terbentuk.’ Begitu katanya.

Jawaban yang menarik, namun saya tidak punya cukup waktu untuk berdiskusi lebih lanjut, karena lagu ai se eu te pego – Michael Telo sudah diputar dan saya lebih memilih untuk ‘melantai’ sehingga meninggalkan diskusi di sela-sela pesta dengan banyak tanda tanya.

***

Dalam bukunya the revolution of hope-toward a humanized technology, Erich Fromm memberikan definisi mengenai iman. Iman adalah keyakinan akan sesuatu yang belum ditunjukan, pemahaman akan kemungkinan nyata yang akan tiba, kesiapsiagaan menyambut lahirnya sesuatu. Iman bukanlah prediksi atas masa depan, tapi merupakan visi terhadap masa sekarang ‘yang masih dalam kandungan’ (Fromm, 1968). Sifat Iman menurut Fromm adalah kepastian dalam ketidakpastian. Pasti dalam arti visi dan pemahaman. Tidak pasti dalam arti hasil final yang ditampilkan oleh realitas. Kita tidak memerlukan iman jika apa yang diimani dapat diprediksi secara ilmiah. Jadi, beriman dipahami sebagai suatu kepastian atas apa yang (mungkin) tidak pasti. Paradoks memang.

Lalu bagaimana iman terbentuk?

Pengalaman dan relasi kita dengan orang lain membentuk iman kita. James Fowler seorang psikolog dan teolog asal Amerika mengatakan bahwa iman tidak harus selalu tertuju kepada Tuhan. Keyakinan terhadap sains dan kemanusiaan sah-sah saja disebut sebagai iman, asalkan orang itu meyakini obyek imannya sebagai yang paling bernilai (ultimate worth) dan mampu memberi makna bagi hidupnya.  Fowler juga merupakan orang yang secara khusus meneliti tentang perkembangan iman, sehingga ia mencetuskan teori perkembangan iman.

Teori Fowler mengenai perkembangan iman sangat dipengaruhi oleh teori Piaget dan Eriksson. Teori ini terdiri dari 6 tahap. Pada tahap pertama (Intuitive-projective faith)( 18-24 bulan sampai 7 tahun) Fowler mengatakan bahwa iman seorang anak diperoleh dari apa yang diceritakan oleh orang dewasa, dalam hal ini orang tua. Anak-anak mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan iman, seperti Tuhan, baik, buruk dan kebiasaan dari apa yang dikatakan oleh orang tua. Pengalaman inilah yang menjadi awal terbentuknya iman seorang anak.

Perkembangan iman seorang individu mencapai titik kritis di awal hingga pertengahan umur duapuluhan. Tahap ini disebut individu-reflective faith dan merupakan tahap ke-4. Pada tahap ini seorang individu mulai memeriksa dengan kritis iman yang selama ini mereka pegang. Pemeriksaan kritis terhadap iman di titik ini menimbulkan pertanyaan dan keraguan. Sebelumnya iman individu sangat dipengaruhi oleh teman sebaya dan orang tua, maka pada tahap ini individu terlepas dari pengaruh atau peran orang lain. Kekuatan di tahap ini adalah kemampuan individu untuk dapat mengungkapkan penjelasan kritis serta mampu mengintegrasikan identitas diri dengan idealisme orang lain. namun, kelemahannya adalah ketika individu menaruh kepercayaan berlebih pada rasionalitas sehingga mengabaikan kekuatan bawah sadar dan intuisi yang akan jadi lebih menonjol di tahap ke-5. Mungkin, ada beberapa teman yang sedang berada pada tahap ini, sehingga mereka sering mengaku diri sebagai agnostik, ateis ataupun orang-orang tidak beriman. Anda termasuk?

(6 tahap perkembangan iman James Fowler).

Keraguan sebagai (salah satu) pembentuk iman.

Bagi saya, iman membutuhkan sikap kritis dimana sikap kritis itu selalu menimbulkan keraguan. Iman tidak lagi dilihat sebagai suatu proses afektif semata tapi juga kognitif dan dengan demikian iman tidak menjadi suatu kepercayaan atau pengetahuan yang lemah atau kata teman saya asal nrimo. Dengan bersikap kritis dan mempertanyakan apa yang diyakini, akan membawa kita pada suatu ‘kebenaran.’ Didimus mencapai suatu pemahaman ketika dia meragukan anak manusia dan hanya dengan keraguan Didimus maka anak manusia menjawab ‘Berbahagialah mereka yang tidak melihat , namun percaya.’ Bukankah sebagian dari kita mengimani pernyataan ini? Jika, anda mengimani pernyataan tersebut, tidakkah disadari bahwa pernyataan itu muncul dari keraguan seorang Didimus.

Keraguan selalu menimbulkan sikap skeptis dan sikap skeptis selalu menimbulkan tanya. Bagi, Fowler keraguan bukanlah lawan dari iman. Saya menyetujuinya. Entah bagaimana dengan anda? Inilah sikap paradoks dari apa yang disebut iman. Kepastian dalam ketidakpastian (keraguan). Mengutip dari buku Lepas Bebas; ‘iman bukanlah kumpulan kepastian-kepastian, melainkan kemampuan untuk merasa ragu.’ Jadi, sudah beranikah kita meragukan apa yang kita anggap benar sekarang? Tuhan, misalnya? Agama? Ideologi? Bahkan kebenaran iman itu sendiri?

Dengan keraguan dan sikap yang mau mempertanyakan secara reflektif, kita tidak lagi memegang satu kebenaran absolut dan meremehkan yang lain. Kita tidak lagi meyakini iman kita yang paling benar, dan iman orang lain salah. Kita tidak memaksakan iman kita agar bisa diterima oleh orang lain. Sikap-sikap seperti inilah yang sedang digumulkan oleh bangsa kita. Kekerasan terjadi karena satu menganggap diri lebih benar dari yang lain. Kecemburuan terjadi karena satu merasa memiliki secara pasti dan apa yang dimilikinya tidak boleh dimiliki oleh yang lain. tidak adanya keterbukaan. Ketika tidak ada keterbukaan akan yang lain, maka cinta mati. Pernyataan dan pengakuan iman selalu berhubungan dengan cinta sehingga tidak bersifat destruktif dan menolak yang lain.

Keraguan pada hakikatnya membuat kita selalu mempertanyakan dan sikap mempertanyakan segala hal membuat kita dapat terbuka dan menerima yang lain dan inilah sifat iman yaitu selalu TERBUKA.

One thought on “FAITH ?

  1. Setuju deng ama pung kesimpulan… b tambah sadikit e, mudah2an nyambung🙂
    Memang bukan hal yang gampang untuk meragukan apa yang selama ini kita anggap benar. Ini persoalan serius, terutama bagi kita di Indonesia yang multi agama. Bisa dikatakan bahwa salah satu penyebab konflik antar umat agama di Indonesia adalah karena tidak sedikit umat beragama yang malas berpikir (dalam hal ini mengkritisi ajaran agama). Iman dianggap sebagai sesuatu yang statis, bukan dinamis sehingga orang cenderung mengambil jalan pintas dengan menyodorkan klaim kebenaran masing-masing agama yang belum tentu dipahami secara baik dan benar. Bta menyebutnya sebagai cara beriman yang dangkal dan berbahaya karena cara beriman seperti itu mengancam hak hidup manusia. Realita menunjukan bahwa dari klaim kebenaran, seseorang bisa beranggapan bahwa Tuhan melegalkan pembinasaan terhadap yang lain. Kalau sudah begini, jangan bermimpi untuk melakukan dialog antar umat beragama. Dialog baru bisa tercipta kalau ada keterbukaan dimana umat yang satu tidak melihat umat agama lain berdasarkan ukuran kebenaran dan agamanya, melainkan bersama-sama mengakui bahwa terdapat keterbatasan dari semua umat dalam memahami keberadaan Yang Maha Kuasa. Semua umat harus merasa saling membutuhkan, karena hanya dengan pemahaman yang semakin menyeluruh berdasarkan pemahaman umat yang berbeda-beda itu, maka pemahaman kita terhadap Yang Maha Kuasa akan semakin baik. Sonde ada kebenaran absolut🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s