Cinta distorsi kognitif

Saya adalah salah satu orang yang meyakini bahwa terkadang kebenaran diperoleh dalam suatu kisah atau cerita. Yesus dan Romo Anthony de Mello pun juga meyakini hal yang sama. Yesus dan Romo Anthony sering sekali bercerita, dan dalam setiap cerita mereka selalu terkandung kebenaran yang (mungkin) kita yakini sampai sekarang. Oleh karena itu ijinkanlah saya untuk memulai tulisan ini dengan suatu cerita, siapa tau anda bisa menemukan kebenaran.

Sebuah kisah dari Ende-Flores-NTT.

Jaman dahulu kala, ada dua orang pria yang bernama Meja dan Wongge serta seorang wanita berparas sangat cantik yang bernama Iya. Karena wajah Iya yang sangat cantik dan mempesona, maka tidak heran jika Iya kemudian menjadi bunga di Ende. Seluruh pria di Ende berusaha untuk mendapatkan cintanya, berlomba untuk bisa menjadikan Iya sebagai kekasih hati termasuk Meja dan Wongge.

Namun, Iya lebih menyukai Meja daripada Wongge yang memang berwatak kasar. Pinangan Meja disambut dengan baik oleh Iya, sedangkan pinangan Wongge ditolak. Wongge pun tidak bisa menerima kenyataan ini dan marah besar. Dengan penuh amarah karena cintanya ditolak, Wongge berjanji akan melakukan segala cara untuk menghalangi hubungan antara Iya dan Meja. Wongge berencana untuk membunuh Meja. Wongge berpikir bahwa Meja tidak boleh menikah dengan Iya.

Suatu hari, Wongge mendapati Meja dan Iya sedang berjalan bersama, dengan amarah dan dendam Wongge mengambil parangnya dan memenggal kepala Meja seketika itu juga Meja tewas tak bernyawa.  Melihat kekasih hatinya dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi, Iya hanya bisa meratap sedih dan menangis di samping tubuh Meja yang sudah tak bernyawa.

Hingga sekarang masyarakat Ende percaya parang yang digunakan Wongge untuk menebas kepala Meja menjadi pulau Ende, kepala Meja yang terlepas dari tubuhnya menjadi pulau Koa, Wongge, Iya dan Meja kemudian menjadi 3 gunung di Ende yang masih ada sampai sekarang. Gunung Iya merupakan gunung berapi yang masih aktif sampai sekarang dan masyarakat Ende percaya bahwa jika Iya meletus itu tandanya Iya sedang menangisi kekasih hatinya Meja. Gunung Iya sampai sekarang setia mendampingi kekasih hatinya Gunung Meja di selatan kota Ende. Wongge yang penuh dengan amarah dan kebencian pergi menyendiri  di utara kota Ende.

Distorsi kognitif

Aaron Temkin Beck, adalah seorang psikiater yang mencetuskan teori dan terapi CBT (cognitive behaviour therapy). Teori CBT beranggapan bahwa segala perilaku manusia yang maladaptif dan menyimpang dipengaruhi oleh pola pikir (cognitive). Bagaimana cara seseorang berpikir akan mempengaruhi emosi dan perilakunya dan hal ini terjadi secara timbal balik.

Dalam penelitiannya mengenai depresi, Beck menemukan beberapa distorsi atau gangguan dalam cara berpikir yang terdapat dalam individu yang sedang mengalami depresi, namun dalam beberapa kasus distorsi-distorsi kognitif ini dapat terjadi pada diri kita.

Distorsi-distorsi kognitif itu antara lain:

  • All or nothing : pemikiran ini cenderung berwarna hitam-putih. Secara ekstrim pemikiran ini akan meyakini prinsip ‘semuanya atau tidak sama sekali’. Contoh dari pemikiran ini : kalau saya tidak mendapatkan IP 4 pada semester ini, saya akan gagal dalam kuliah.
  • Abstraksi selektif : mengambil sedikit ide dari suatu kejadian atau peristiwa untuk menunjang pemikiran yang negatif. Dengan kata lain, mempertahankan pemikiran negatif.
  • Membaca pikiran : tahu apa yang ada di pikiran orang lain.
  • Prediksi negatif : percaya bahwa sesuatu hal yang buruk bakal terjadi tanpa adanya bukti / data.
  • Catasthrophizing (menciptakan bencana) :  mengambil satu peristiwa negatif yg terjadi dalam hidup  dan melebih-lebihkannya sehingga diri sendiri menjadi cemas.
  • Generalisasi berlebihan: suatu peristiwa yang terjadi pada diri sendiri akan terjadi secara berulang. Contohnya: Si A mengatakan cintannya pada si B, tapi si B menolak sehingga si A menggeneralisasikan keadaannya bahwa semua gadis tidak ada yang mencintainya.
  • Labeling (membuat label): pandangan negatif mengenai diri sendiri.
  • Minimalisasi : mengecilkan hal-hal yang positif.
  • Personalisasi : mengambil suatu peristiwa yang tidak ada hubungan dengan dirinya dan membuatnya seakan-akan perisitiwa tersebut terjadi pada dirinya.

Dalam hidup mungkin kita pernah melakukan 1 dari 9 distorsi kognitif di atas namun kita masih terselamatkan karena kita tidak menjadikan hal tersebut sebagai suatu keyakinan absolut beda dengan orang-orang yang mengalami depresi dan gangguan lainnya.

Cinta distorsi kognitif

Dalam kisah cinta segitiga antara Wongge, Iya dan Meja, kita bisa melihat bahwa Wongge yang merasa dikecewakan oleh Meja dan Iya memutuskan untuk mengakhiri hidup Meja dengan menebas kepala Meja dengan parang. Perilaku Wongge ini tentunya dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Saya berpendapat bahwa Wongge memiliki cara berpikir all-or-nothing, yang merupakan salah satu jenis distorsi kognitif. “Jika saya tidak mendapatkan Iya sebagai kekasih saya, maka orang lain (Meja) pun tidak pantas untuk mendapatkan iya,” kata Wongge. Dengan cara berpikir seperi itu maka Wongge ‘berhasil’ mengakhiri hidup Meja dan Meja pun tidak dapat memiliki Iya sepenuhnya.

Distorsi kognitif seperti ini tidak saja muncul dalam mitologi Wongge, Iya dan Meja namun dalam kehidupan nyata. Mungkin anda pernah menjumpai teman yang mengatakan bahwa dia sangat membenci perempuan/laki-laki dan menganggap mereka semua sama buruknya atau seorang teman yang selalu menilai dirinya sebagai individu yang tidak berguna dalam relasinya dengan orang lain. ini semua merupakan gambaran distorsi kognitif.

Beberapa bulan yang lalu ada seorang teman yang bercerita pada saya mengenai masalah hubungannya. Teman saya ini sangat menyayangi pacarnya dan begitu juga sebaliknya. Menurut saya hubungan mereka nyaris tanpa cela, sampai akhirnya saya kaget karena teman saya menjadi marah dengan pacarnya hanya karena pacarnya tidak membalas SMS. Ibarat pepatah ‘karena nila setitik, rusa susu sebelangga’. Cinta seperti ini merupakan gambaran dari distorsi kognitif jenis Abstraksi selektif.

Anda bisa bayangkan kalau hubungan yang awalnya baik menjadi rusak karena satu kesalahan dan kita cenderung mempertahankan hal negatif tersebut sehingga tidak lagi memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal positif yang sebenarnya ada dalam hubungan. Namun, saya juga berpikir bahwa individu  tidak sepenuhnya salah dalam proses pembentukan distorsi kognitif, selain karena masa lalu dan kondisi, media juga sangat berperan penting, lihat saja FTV atau sinetron yang ada di TV, seakan memberikan reinforcement bahwa cara berpikir yang benar adalah apa yang aktor dan aktris tampilkan dalam peran mereka. Sampai disini cinta tidak dimaknakan lagi sebagai sesuatu yang membawa kebahagiaan dalam suatu hubungan tapi mengalami degradasi makna, menjadi penyebab kerusakan hubungan. Jadi, kita yang memperlakukan orang lain ataupun diri sendiri dengan cara berpikir yang terdistorsi akan jauh dari cinta.

Layaknya Wongge yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, kita pun akan menjadi tidak bahagia jika kita mencintai orang lain dengan distorsi kognitif.

Bukankah anda menemukan kebenaran dari sebuah cerita?

Sama seperti petuah bijak dari seorang filsuf :

………. semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.

pulau ende, parang Wongge

 

 

 

 

 

 

 

 

 

gunung Meja (yang atasnya datar)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pulau Koa, kepala gunung Meja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

referensi:

Bahan ajar Konseling dan Psikoterapi, Terapi Kognitif. Aloysius Soesilo.

Sumber gambar:

http://lilianatwin.wordpress.com/legenda-gunung-meja-ende/

http://beritadaerah.com/budaya/bali/38240

4 thoughts on “Cinta distorsi kognitif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s