RAIN MAN : Sebuah ulasan psikologis mengenai autis savant

RAIN MAN[1]

Oleh: Voltaire Talo[2]

RAIN MAN

sumber gambar (http://jfkoernia.wordpress.com/2010/07/09/rain-man/)

Rain man merupakan film yang disutradarai oleh Barry Levinson. Film yang dirilis tahun 1988 ini menceritakan tentang hubungan antara  dua bersaudara yaitu Charlie Babbit (Tom Cruise) dan Raymond Babbit (Dustin Hoffman). Charlie adalah seorang pengusaha muda yang energik, workaholic, penuh muslihat dan pemarah sedangkan saudaranya Raymond adalah seorang penderita autisme yang hidup di sebuah lembaga penampungan orang-orang autis Wallbrock.

Kisah ini bermula ketika orang tua dari Charlie (Tom Cruise) meninggal dunia dan meninggalkan warisan sebesar 3 juta dollar dan diwariskan kepada kakaknya sendiri yaitu Raymond (Dustin Hoffman). Raymond sendiri adalah seorang penderita autis savant yang tinggal di Wallbrock. Ketidakpuasan dan kesulitan keuangan kemudian menjadi alasan bagi Charlie untuk mencari kakaknya dan menggunakan segala cara agar mendapat sedikit keuntungan dari warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya, termasuk berusaha membawa keluar Raymond dari Wallbrock secara ‘ilegal’. Petualangan dua saudara pun dimulai ketika mereka meninggalkan Wallbrock.

Dengan menyajikan ending yang emosional, Levinson berhasil membawa film ini memperoleh banyak penghargaan. Tidak tanggung-tanggung film ini kemudian mendapat rating 8/10 dari Internet Movie Database (IMDb).  Rain man juga menjadi salah satu film terbaik di tahunnya, dan tentunya kesuksesan film ini tidak terlepas dari peran sutradara, para kru dan bintang film yang terlibat. Di tahun 1989, Dustin Hoffman yang berperan sebagai Raymond memperoleh ‘ganjaran’ Academy Awards sebagai pemeran utama terbaik. Sang sutradara Barry Levinson juga mendapat ‘ganjaran’ serupa sebagai sutradara terbaik.

FYI: film Rain Man terinspirasi oleh kisah hidup Kim Peek. Peek bukanlah karakter fiksi seperti Raymond tapi merupakan karakter nyata. Ingin tahu lebih lanjut mengenai Peek, visit Google !!

Ada banyak hal menarik yang ditemukan dalam studi mengenai perkembangan dan kemampuan manusia. Hal-hal yang menarik ketika melakukan studi mengenai manusia  kemudian muncul dalam perilaku dan fungsi-fungsi mental. Kecerdasan, gangguan serta fungsi-fungsi intelektual menjadi isu partikular yang sering dijumpai ketika kita membahas mengenai kondisi manusia. Tulisan ini akan mengantar kita memahami gambaran sederhana mengenai gangguan autisme, khususnya autis savant. Secara metodologis-teoritis, penulis mengakui bahwa pembahasan ini masih jauh dari kesempurnaan untuk ‘menyentuh’ secara utuh bagian ‘tubuh’ autisme.

APA ITU AUTIS?

Seringkali dalam kehidupan kita sehari-hari kita sering menggunakan istilah-istilah klinis. Hal ini pun tidak terlepas dalam relasi kita dengan orang lain. Saat kita sedang berkumpul bersama dengan teman-teman kita namun ada salah satu teman yang lebih mencurahkan konsentrasinya pada gadget yang dimiliki, secara spontan kita langsung mengatakan teman tersebut ‘autis’.  Orang tua yang melihat perkembangan anaknya tidak seperti anak-anak tetangga, bisa menjadi cemas lalu menegakan diagnosis sendiri bahwa anak mereka terkena ‘autis’/gangguan psikologis yang lain. Perlu diketahui bahwa penegakan diagnosis terhadap satu/lebih gangguan harus berasal dari otoritas ahli yang punya kompetensi. Lalu sebenarnya apa itu autisme? Bagaimana anda mengetahui bahwa teman anda menderita autisme?

Untuk menjawab rumusan masalah yang telah saya paparkan di atas, kita harus melihat pada kriteria yang telah didefinisikan oleh ahli medis. Kriteria yang paling sering digunakan adalah yang didefinisikan oleh World Health Organization, yang terdapat dalam ICD-10 (International Classification of Disease-edisi ke-10) dan DSM-IV (Diagnostic Statistical Manual, edisi ke-4 yang dikembangkan oleh APA). Di Indonesia sendiri kriteria gangguan dapat kita lihat pada buku PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnostik Gangguan Jiwa).

 Kata autism sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti self atau diri sendiri. Autis merupakan salah satu gangguan perkembangan yang didasari secara biologis namun secara perilaku, gangguan ini mempengaruhi aspek perkembangan secara luas, misalnya; interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang fleksibel (Wallace,2008). Dalam PPDGJ III, autis termasuk gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang (PPDGJ III, 2001, hal.130).

Pada DSM IV (dalam Peeters, 2004) definisi gangguan autistik  dapat dilihat sebagai berikut:

A.   Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok 1, 2 dan 3 yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok 1, satu pokok dari kelompok 2 dan satu pokok dari kelompok 3.

1.       Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua di antara yang berikut ini:

(a)    Ciri gangguan yang jelas dalam penggunaan berbagai perilaku nonverbal (bukan lisan) seperti kontak mata (eye- to-eye gaze), ekspresi wajah, gestur dan gerak isyarat untuk melakukan interaksi sosial.

(b)   Ketidakmampuan mengembangkan hubungan pertemanan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.

(c)    Ketidakmampuan turut merasakan kegembiraan orang lain

(d)   Kekurangmampuan dalam berhubungan emosional secara timbal balik dengan orang lain.

2.       Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukan oleh paling sedikit salah satu dari yang berikut ini:

(a) Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara alternatif dalam berkomunikasi).

(b)   Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.

(c)    Penggunaan bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).

(d)   Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.

3.       Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif, dan stereotip seperti yang ditunjukan oleh paling tidak satu dari yang berikut ini:

(a)    Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terbatas yang bersifat abnormal baik dalam intesitas maupun fokus.

(b)   Kepatuhan yang tampaknya didorong oleh rutinitas atau ritual spesifik (kebiasaan tertentu) yang nonfungsional (tidak berhubungan dengan fungsi).

(c)    Perilaku gerakan stereotip dan repetitif (seperti terus menerus membuka-tutup genggaman, memuntir jari atau tangan atau menggerakan tubuh dengan cara yang kompleks).

(d)   Keasyikan yang terus-menerus terhadap bagian-bagian dari sebuah benda.

B.  Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3 tahun seperti yang ditunjukan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal dalam paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut ini: 1. Interaksi sosial, 2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial, 3. Permainan simbolik atau imajinatif.

C.  Sebaiknya tidak disebut dengan istilah gangguan Rett, gangguan integratif kanak-kanak, atau sindrom Asperger.

AUTIS DAN SAVANT SKILLS

Dalam film Rain Man, kita sama-sama melihat bahwa tokoh utama menderita autis. Namun, kita juga bisa melihat bahwa Raymond sebagai tokoh utama memiliki kemampuan matematika yang luar biasa yang melebihi manusia-manusia dalam kategori ‘normal’. apakah orang-orang abnormal bisa secemerlang Raymond? Apakah setiap orang yang menderita autis bisa memiliki kemampuan yang brilian sperti dalam film Rain Man?

Studi yang dilakukan oleh Tredgold (dalam Wallace, 2008) menggambarkan bahwa bakat khusus/kemampuan spesial terdapat pada 20 pasien kejiwaan. Kemampuan khusus/bakat tersebut terdiri dari kemampuan mengingat tanggal dan kejadian di masa lalu, menghitung dengan cepat, kemampuan bermusik, dan kemampuan mekanik. Dia juga membandingkan bakat khusus yang dimiliki oleh pasien-pasien kejiwaan dengan populasi yang lebih besar, sehingga menyoroti arti penting dari potensi mereka.  Autis savant sendiri mengacu pada individu dengan autisme yang memiliki ketrampilan yang luar biasa yang secara umum tidak dimiliki oleh kebanyakan orang dan merupakan fenomena yang menarik dalam psikologi kognitif.

Sindrom savant, meskipun jarang terjadi pada penderita autis, namun telah didokumentasikan dengan baik dalam penelitian medis dan psikologis selama lebih dari satu abad. Down yang merupakan dosen masyarakat medis di London pada tahun 1887, membahas kasus individu-individu yang cacat namun tetap menunjukan kemampuan yang luar biasa. Hal tersebut masih terus diteliti sampai sekarang (Wallace, 2008).  Lebih jauh, menurut Rimland (dalam Wallace, 2008) pada 5400 anak-anak dengan autis, ditemukan 531 anak-anak memiliki savant skills. Studi dari Rimland tersebut menunjukan bahwa tidak semua anak-anak yang menderita autis memiliki savant skill dan sebaliknya.

Sindrom savant, memiliki beberapa tipe/ jenis umum  yang biasa dijumpai pada penderita autis, diantaranya:

  • Musik :  para penderita autis savant yang memiliki kemampuan musik bisa memainkan musik dengan baik, mengetahui tinggi-rendahnya suatu nada, dan dapat menciptakan harmonisasi yang luar biasa. Penelitian  Hermelin pada tahun 1989 (dalam Wallace, 2008) yang dilakukan pada seorang penderita autis laki-laki (34 tahun) dengan kontrol adalah seorang musisi profesional (26 tahun), ditemukan bahwa penderita autis yang memiliki skill savant dalam bidang musik menunjukan gaya improvisasi dalam bermusik yang lebih baik daripada kontrol.
  • Artistic/Kesenian: penderita autis dengan kemampuan kesenian dapat memproduksi gambar, lukisan dan bentu-bentuk tiga dimensi.
  • Matematika dan menghitung kalender:  biasanya penderita autis dengan kemampuan matematika, dapat menghitung dengan cepat dan dapat memprediksi kejadian atau hari di masa yang akan datang, serta mengingat kejadian yang terjadi di masa lalu dengan tepat.

Lalu bagaimana menjelaskan terjadinya savant skill pada penderita autis?

Tidak ada satu teori yang dengan pasti dapat menjelaskan pertanyaan di atas. Namun, yang bisa dipastikan adalah dalam beberapa tahun belakangan ini, telah muncul berbagai macam teori yang mencoba menjelaskan fenomena savant skill pada penderita autis dan kebanyakan teori-teori tersebut berasal dari sudut pandang neuropsychological. Beberapa teori tersebut antara lain weak drive for central coherence (WCC), extreme male brain theory, dan enhanced perceptual functioning (Wallace, 2008).

PEMBAHASAN RAIN MAN DAN SAVANT SKILL

Pada bagian ini, penulis akan coba menganalisis isi film Rain Man dalam kaitannya dengan gejala-gejala gangguan autistik yang didefinisikan oleh DSM IV.

Secara umum ada 3 gejala daripada gangguan autistik. Tiga gejala umum inilah yang menjadi ciri khas dari gangguan autistik, yaitu; interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Tiga ciri khas ini memiliki keterkaitan satu dengan yang lain (Yuwono, 2009. Hal. 27).

Gambar di atas menunjukan adanya saling keterkaitan antara ketiga aspek tersebut. Jika perilaku bermasalah maka dua aspek interaksi sosial dan komunikasi akan mengalami kesulitan dalam berkembang. Sebaliknya bila kemampuan komunikasi dan bahasa anak tidak berkembang, maka anak akan kesulitan dalam mengembangkan perilaku dan interaksi sosial yang bermakna (Yuwono, 2009. Hal.28) .

Dalam film rain man diketahui bahwa Raymond menderita autis savant, yaitu penderita autis yang memiliki kemampuan khusus yang luar biasa. Dalam hal ini adalah kemampuan menghitung dengan cepat, mengingat dan memperhatikan sesuatu dengan detail. Ciri-ciri autisme yang ditunjukan dalam film ini antara lain:

1.    Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif, dan stereotip seperti yang ditunjukan oleh paling tidak satu dari yang berikut ini, yaitu:

  • Adanya rutinitas yang dilakukan Raymond berulang-ulang kali, seperti menonton acara TV pada jam tertentu, pola hidup yang tertentu, salah satu adegan justru memperlihatkan bagaimana Raymond ketika memesan pancake, harus disedikan sirup mapple terlebih dahulu di meja, dan tempat tidur Raymond harus berada di dekat jendela.
  • Raymond sering melakukan perilaku tertentu, seperti mengatakan lelucon dari Abbott and Costello’s Who’s on First meski tanpa tahu maknanya, dan ketika Raymond panik ia akan mengoyangkan- goyangkan badan, membalik – balikkan buku, menyusun-nyusun kartu, memukul – mukulkan kepalanya ataupun membentur – benturkan kepalanya.

2.   Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, yaitu:

  • Raymond tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya, ia cenderung fokus dengan dirinya sendiri.
  • Raymond jarang menatap orang lain ketika berbicara.

3.   Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi, yaitu:

  • Raymond tidak dapat berbicara layaknya orang normal, lamban dalam berbicara, kadang tidak jelas, penggunaan kata yang tidak teratur, hanya menjawab pertanyaan dengan singkat.
  • Dalam berkomunikasi Raymond tidak menunjukkan ekspresi, atau mimik wajah yang mendukung dengan pembicaraannya. Tidak tampak kesedihan ketika harus berpisah dengan saudaranya atau mendengar ayahnya yang meninggal dunia.
  • Pada saat adegan Raymond berciuman dengan pacarnya Charlie, Raymond hanya mampu mempersepsikan ciuman tersebut dengan kata ‘basah’, tanpa mengerti secara emosional apa makna ciuman tersebut, disini Raymond tidak terlihat menikmati ciuman tersebut.

Raymond juga memiliki kemampuan(savant skill) yang luar biasa, khususnya dalam matematika dan mengingat segala sesuatu yang pernah terjadi. Disamping itu Raymond bisa menghafalkan sejarah dan menghafal buku telepon beserta nomor telepon dari abjad A- setengah abjad G. itulah savant skill yang dimiliki oleh Raymond.

REFLEKSI

 Setelah menonton film ini berulang-ulang kali, saya selalu mendapatkan banyak hal baru dan tidak pernah merasa bosan. Meskipun film rain man  menimbulkan banyak kritik dari para kritikus film, namun film ini berhasil menggambarkan gangguan autis dengan sangat baik. Film ini mengajarkan pada saya bahwa sesungguhnya bukan saja Raymond yang memiliki kebutuhan khusus, tapi saudaranya Charlie yang justru menggambarkan karakter yang memiliki ‘kebutuhan khusus’. Peran Charlie merupakan gambaran bagi kita para calon ilmuwan psikologi, psikolog dan sekaligus mewakili orang-orang yang selama ini memposisikan diri dalam ruang ‘normal’ dimana kita justru merupakan orang-orang yang ‘berkebutuhan khusus’, yang butuh belajar kasih sayang dan kesabaran, kita adalah orang-orang yang butuh hati dan perasaan untuk menerima ‘sesama’ kita dalam berjalan menuju pada kehidupan yang lebih baik.  Kita semua butuh untuk belajar sabar dan menerima mereka yang ‘berbeda’ sehingga hal itulah yang membuat kita tetap menjadi manusia. Bukankah dalam arti yang lain, saya dan anda adalah anak-anak berkebutuhan khusus?

PENUTUP

Gangguan autisme merupakan suatu gangguan yang sampai saat ini belum diketahui dengan pasti apa penyebabnya, meskipun ada banyak teori dan penelitian yang berusaha menjelaskan hal ini. Namun, pada beberapa kasus sebagian penderita autis memiliki kemampuan yangg luar biasa yang biasa disebut savant skill, seperti yang ditunjukan oleh Raymond dalam film rain man. Selain di bidang psikologi penelitian pada bidang neuropsychological  juga berusaha menjelaskan fenomena savant skill pada penderita autis, sehingga penelitian mengenai autisme mengalami perkembangan yang pesat. Autis memang tidak dapat disembuhkan tapi melalui kesabaran dan penerimaan kita, maka semakin besar kemungkinan bahwa penderita autis dapat mengembangkan dan mengoptimalkan dirinya.

Berikut adalah beberapa film yang bisa ditonton:

  • One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975).
  • My Left Foot (1989).
  • Little Man Tate (1991).
  • Forest Gump (1994).
  • I Am Sam (1998).
  • Mercury Rissing (1998).
  • The Miracle Worker (TV 2000).
  • The Soloist (2009).
  • My Name Is Khan (2010).
  • Temple Grandin (2010).
  • The Beaver (2011)

    GOOD MOVIE  GOOD BRAIN

    GOOD MOVIE  GOOD HEART

-Voltaire Talo-

REFERENSI:

Delphie, Bandi. (2009). Pendidikan anak autistik. Klaten: PT. Intan Sejati Klaten.

Guber, P., Johnson, M., McGiffert, D., Molen, G., Mutrux, G. & Peters, J. (Producers), & Levinson, B. (Director). 1988. Rain Man (BlueRay). USA: Metro Goldwyn Mayer.

Maslim, Rusdi, ed. Buku Saku PPDGJ III, Jakarta, 1995.

Peeters, T. (2004). Panduan autisme terlengkap. Jakarta: Dian Rakyat.

Volkmar, F. R., & Weisner, L. A. (2009). A practical guide to autism. What every parent, family member, and teache needs to know. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc., Hoboken.

Wallace, G.L. (2008). Neuropsychological studies of savant skills: can they inform the neuroscience of giftedness? The Roeper Institute, 30, 229-246.

Yuwono, J. (2009). Memahami anak autistik (Kajian teoritik dan empirik). Bandung : Alfabeta CV.

Sumber internet:

Edelson, S.M. (n.d.) Autistic Savants . Retrieved from http://www.autism.com/fam_autistic_savants.asp.

Internet Movie Databese (IMDb) . (n.d) . Retrieved from http://www.imdb.com/title/tt0095953/.

Kenz.  ( 2005). Analisa film rain man. Retrieved from http://blog.kenz.or.id/2005/09/23/analisa-film-rain-man.html .

 


[1]  Materi ini dibawakan pada tanggal 30 Januari 2012  dalam Kelompok Obrolan Psikologi (KOPI) UKSW

[2]  Penikmat sastra dan film.

16 thoughts on “RAIN MAN : Sebuah ulasan psikologis mengenai autis savant

  1. Curhat ah :))
    Mungkin bisa disebut aneh, tp saya pernah berharap ingin punya savant skill, entah harus menjadi savant atau tidak, I want to be The Rain Man. Lalu Ibu saya bilang saya tidak autis tp gila haha dia protes.

    Saya ingat pertama kali lihat film ini waktu saya SD, dan Rain Man adalah satu-satu sosok keren yang mengalahkan Kotaro Minami bagi saya saat itu. That the first time I remember, I called my self The Rain Man hahaha..

  2. The Miracle Worker bercerita tentang Hellen Keller bukan? sudah berkali2 dikaryakan dalam beberapa macam pentas seni dan tulisan. Hellen keller, tuna netra, tuna rungu dan bisu, sejak demam yg di alami-nya di kanak2. Apa Hellen Keller juga autis sehingga direkomendasikan disitu?

    1. saya merekomendasikan film-film yang ditonton sebagai pembanding agar teman2 di KOPi bisa melihat gambaran dari anak-anak berkebutuhan khusus dan mereka yang mengalami cacat fisik serta mental… jadi film2 itu tidak saja hanya berbicara tentang autis (meskipun ada-seprti mercury rising)..tapi kondisi2 gangguan yg lain seperti cerebral palsy, asperger…

      1. Oh, I got it!😀
        Ulasan yang menarik. Memang selalu ada rasa haru setiap kali belajar mengenai anak berkebutuhan khusus, lebih lagi jik berinteraksi langsung dengan mereka.🙂

        Oh ya, penyingkatan nama Kelompok Obrolan Psikologi saya suka sekali: KOPI

    1. hai kak Elta, secra umum ciri2 Asperger sama seperti Autis dan Asperger biasa disebut sbg autis ringan, namun hal paling umum yg membedakan asperger dan autis adalah diagnosanya.. ana asperger biasa di diagnosa pada saat 6-12 tahun sdgkn autis 2-3 tahun sudah bisa di diagnosa. Selain itu, dalam bkomunikasi, anak asperger masih mampu memahami komunikasi dgn baik namun hal ini tdk terjadi pada anak autis.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s