Dari bertanya sampai bertemu (pandangan mengenai spanduk di Fakultas Psikologi)

Beberapa hari ini Fakultas digegerkan dengan masalah spanduk. Spanduk yang digantung di depan Fakultas Psikologi UKSW. Spanduk tersebut bertuliskan:

“Mau Dibawa Kemana Fakultas Psikologi? (akreditasi?, kinerja dosen?, konflik dosen?, apatisme mahasiswa?) Mahasiswa & Dosen “SADAR DONG” LK Tunjukan Nyalimu, Jangan Jadi “KULI” Di Negerimu!!! FORMASI”

Banyak versi yang sampai ke telinga saya mengenai misteri spanduk tak ‘bertuan’ tersebut. Dari permasalahan kenapa? Apa? Bahkan siapa yang memasang spanduk tersebut. Bukan suatu hal yang penting bagi saya, justru malah membingungkan karena terlalu banyak versi. Tulisan yang saya tulis tidak ada ‘tali persaudaraan’ dengan FORMASI (Forum Mahasiswa Psikologi), saya juga tidak mengenal mereka, apa lagi mau membela mereka. Mereka tidak perlu dibela bukan? Formasi yang saya tahu hanya 4-4-2, 3-5-2, 4-3-3 dan formasi andalan 69. Lagian yang memasang spanduk itu mungkin juga bukan sekelompok orang yang disebut FORMASI tapi bisa saja individu yang mengatasnamakan FORMASI. Who knows?

Tulisan ini hanyalah sebuah pandangan dan pendapat subjektif dari penulis dan bisa jadi banyak hal yang bisa diperdebatkan dan dikritisi, namun itulah tujuan dari tulisan ini, kita bisa sama-sama belajar untuk melihat dan menerima pandangan serta kritikan orang lain bisa saling mengkritis dengan cara yang baik dan tanpa merasa tersinggung. Namun jikalau anda membaca lalu tersinggung, itu bukan salah saya. Roland Barthes pernah mengatakan bahwa THE AUTHOR IS DEAD, jadi ketika anda membaca tulisan ini, andalah yang memiliki otoritas penuh terhadap interpretasi dan pandangan anda sendiri.

Dalam tulisan ini saya akan coba melihat kegelisahan kata-kata yang ada dalam spanduk tersebut, kegelisahan kata-kata tersebut merupakan presenting problem mahasiswa yang setidaknya harus didengarkan oleh konselor (fakultas).

Filsafat Pertanyaan

Makin banyak manusia tahu, makin banyak pertanyaan timbul. Socrates memulai filsafatnya dengan mengajukan pertanyaan. Dari bertanya kemudian muncul dialog, dan dari dialog ada pemahaman, pertukaran pikiran dan perdebatan  namun semua itu merujuk kepada satu tujuan yaitu pemecahan masalah, lantas apakah masalah terpecahkan begitu saja? Ooo..tentu tidak, justru jika masalah yang satu terpecahkan maka kemudian akan merujuk pada masalah yang lain, namun semakin seperti itu, semakin kita terasah secara kognitif untuk selalu terbuka terhadap pertanyaan bahkan terbuka terhadap kesalahan dan kekritisan orang lain. Bukankah asal mula suatu jawaban adalah dengan pertanyaan. Yah, memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang-orang yang tidak setuju dengan pertanyaan dan malah langsung menjawab. Mmm…mungkin orang-orang seperti ini yang digolongkan orang-orang ‘sok tahu’ .

Para filsuf Yunani Kuno, ahli psikologi dan ahli nujum (orang yang pandai meramalkan sesuatu-red) mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup. Siapa aku? Apa aku ini? Mau kemana aku pergi? Dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merupakan pertanyaan dasar yang selalu ditanyakan oleh manusia, dan dalam keputusasaan serta kegelisahan, manusia justru mencoba untuk mencari jawaban. Jawaban yang ditemukan oleh manusia pun bisa beraneka ragam dan semakin beraneka ragam semakin membuat manusia terlempar dalam kebingungan, namun ada sisi baiknya yaitu manusia selalu membutuhkan ‘liyan’(orang lain atau sesuatu yang berbeda dari diri dan kedirian) dalam membantunya mengatasi hidup dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang digumulkan.

Siapa aku? Apa aku ini? Mau kemana aku pergi? merupakan pertanyaan-pertanyaan yang timbul  karena ketidakjelasan. Siapa aku? Merupakan pertanyaan yang timbul dalam diri individu ketika mengalami ketidakjelasan tentang identitasnya, namun pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab ketika dia bertemu atau memiliki relasi dengan ‘liyan’. Mau kemana aku pergi? Merupakan pertanyaan karena mengalami ketidakjelasan arah atau tujuan. Sekali lagi hemat saya pertanyaan ini juga membutuhkan pandangan ‘liyan’.

Saya selalu senang menceritakan kisah tentang Petrus ketika bertemu dengan Yesus dalam film Quo Vadis. Petrus lari dari Roma karena takut dibunuh dan dalam perjalanan bertemu orang asing (Yesus) yang malah mau menuju Roma. Petrus bertanya “Quo Vadis (mau ke mana)?” lalu Yesus menjawab “mau ke Roma untuk disalibkan kedua kali”. Di sini saya melihat bahwa Yesus mengerti arah tujuannya akan ke mana dan tanpa ragu dalam menjawab sehingga Petrus mengalami suatu kesadaran dan matanya terbuka bahwa dia sedang berbicara dengan Yesus. Ketika sadar, Petrus lalu kembali ke Roma untuk martir disana.

Mau Dibawa Kemana Fakultas Psikologi? (sebagai suatu kegelisahan)

Quo Vadis Fakultas Psikologi? Suatu pertanyaan yang timbul karena ketidakjelasan. Pertanyaan yang timbul dari hati teman-teman yang menamakan diri sebagai FORMASI. Kenapa pertanyaan ini dilontarkan? Yah, karena tidak jelas Fakultas Psikologi UKSW mau ke mana. Ketidakjelasan ini bisa kita lihat dari perumusan visi dan misi yang juga tidak jelas. Awal saya masuk di tahun 2006, fakultas ini memiliki visi di bidang industri dan organisasi, namun (kalau tidak salah) tahun lalu, ada perumusan ulang mengenai visi-misi fakultas dari yang berorientasi di bidang Industri dan Organisasi menuju kepada visi yang (kedengarannya) luar biasa, ‘Integration of body, mind and spirit’. Namun, sampai sekarang, saya secara pribadi tidak tahu visi yang mana, yang sebenarnya dipakai oleh fakultas. Jelas saja pertanyaan “Mau Dibawa Kemana Fakultas Psikologi?” ditanyakan. Mau jadi apa Fakultas kalau berjalan tanpa Visi dan tanpa arah yang jelas?  Tapi masih semangat meluluskan sarjana-sarjana psikologi yang (mungkin tidak) jelas.

homo homini lupus

Kalau visi yang lama masih tetap dipertahankan, maka perubahan untuk mencapai visi juga harus dilakukan fakultas, namun kalau visi yang baru mau diterapkan, yaitu harus juga dirumuskan dan ditegaskan, sehingga lulusan fakultas psikologi UKSW memiliki karakter seperti visi yang dimaksudkan oleh fakultas. Terintegrasi badan, pikiran dan rohani. Kalau individu-individu di fakultas, ketiganya sudah terintegrasi maka sifat homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain) tidak akan berkembang . contoh paling gampang dari sifat homo homini lupus ini adalah sikap saling membenci dan menyerang antara sesama. Adakah sifat ini di fakultas kita?

Adalah suatu kebijaksanaan jika fakultas bisa menjawab pertanyaan tersebut dan memberikan penjelasan kepada kami mahasiswa. Langkah bertanggung jawab yang bisa diambil dekan atau fakultas adalah menjawab pertanyaan “Mau Dibawa Kemana Fakultas Psikologi?”,  bukan malah mencabut spanduk karena perilaku ini bisa jadi multitafsir. Dalam menilai perilaku semacam itu, orang lain bisa melihat dekan kita sedang berusaha menghindar. Saya sangat berharap kalau fakultas bisa menjawab pertanyaan tersebut, mungkin bukan hari ini tapi secepatnya (jangan juga lama-lama). Dalam hal ini saya mendukung ibu dekan dan civitas Fakultas Psikologi UKSW (yang tidak lain dan tidak bukan adalah kita) untuk bisa sama-sama menjawab.

Kita punya tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan suatu encounter. Sederhana saja, bertemulah! Dalam pertemuan ini yang diharapkan terciptanya dialog yang empatik dan bukannya menunjukan sikap tersinggung. Pemahaman diri sendiri dan cara berpikir orang lain (liyan) diperlukan dalam pertemuan ini, guna menjawab pertanyaan tersebut.

Mahasiswa & Dosen “SADAR DONG”

Miris membaca ungkapan ini. Lho, kok bisa? Mirisnya karena selama ini mahasiswa dan dosen di Fakultas psikologi UKSW tidak ada yang sadar, atau mungkin ada yang sadar tapi pura-pura tak sadar. Meskipun makna KESADARAN dalam ungkapan tersebut masih bisa diperdebatkan, namun KETIDAKSADARAN-lah yang mengontrol perilaku manusia-manusia psikologi. Anda dan saya.

Apa itu kesadaran?

Menurut saya, sadar artinya ingat, bisa merasa, dan tahu akan kapasitas, kekuatan, tahu dan mau mengakui kelemahan diri sebagai seorang manusia. Selain itu kesadaran juga memiliki arti bisa peka terhadap keadaan orang lain dan lingkungan sosial serta mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi dari keputusan yang diambil. Jadi, jika anda melakukan kesalahan dan ditegur oleh orang lalu anda berubah jadi lebih baik, maka itulah yang dinamakan anda sudah sadar. Kesadaran juga berarti memiliki sikap yang aktif dalam mencapai suatu perubahan yang lebih baik.

Kemudian apa itu ketidaksadaran? Ketidaksadaran yang saya maksudkan adalah sikap tidak peka/tidak mampu merasa, tidak mau berpikir lebih jauh mengenai masukan atau kritik serta sikap tidak mau mengetahui. Sikap acuh terhadap keadaan lingkungan, anda bisa saja menyebutnya sikap apatis, sikap tidak kritis dan sikap-sikap menolak untuk mengakui kesalahan dan kelemahan sebagai individu.

Beberapa fenomena yang terjadi adalah :

Dosen tidak sadar bahwa prioritasnya adalah mahasiswa, bukan mengosongkan kelas terus-menerus. Saya sempat berpikir bahwa dosen-dosen yang rajin mengosongkan kelas adalah dosen-dosen yang kalau masuk banyak mengajarkan omong kosong.

Mahasiswa tidak sadar bahwa mereka harusnya bersikap kritis dan menjadi pembelajar aktif di dalam kelas, bukan duduk, buka mulut dan lalat masuk. Kerja ujian TS atau TA pakai menyontek. Sikap-sikap tidak sadar seperti inilah yang selama ini men-drive mahasiswa (termasuk saya) dalam berkuliah.

Fungsionaris LK tidak sadar  bahwa tugasnya adalah mendengarkan aspirasi mahasiswa, peka terhadap situasi mahasiswa karena mereka ada untuk mewakili mahasiswa.  Menurut saya menjadi fungsionaris LK lebih daripada hubungan organisasi, peran dan job description.

Lalu bagaimana agar  kami bisa menuju KESADARAN?

Lacan, psikoanalis asal Perancis mengatakan bahwa peran ‘liyan (others)’  sangatlah penting untuk mencapai suatu kesadaran. Seorang bayi menjadi sadar dia itu siapa karena ada orang lain (significant others/ orang tua). Orang lain adalah orang yang berbeda dari diri dan kedirian kita. Banyak konflik yang terjadi disebabkan karena kita tidak sadar ingin agar orang lain menjadi seperti kita. Berpikir seperti kita, menyanyi seperti kita, berjalan seperti kita dan mungkin bercinta seperti kita. Sehingga yang timbul adalah pemaksaan.

Namun, saya juga merasa bahwa pertanyaan bagaimana kita bisa SADAR? Sangat susah untuk dijawab dan jawaban yang saya berikan masih sangat abstrak, untuk itu saya membutuhkan pemikiran teman-teman dan dosen bahkan para pegawai di Fakultas untuk bersama-sama mengambil tanggung jawab (sekali lagi) dalam menjawab pertanyaan. “Kalau semua disalahkan, siapa yang bertanggung jawab?” kata Hannah Arendt.

Penutup

Pertanyaan-pertanyaan di atas sangatlah membutuhkan jawaban, bukan sikap diam. Kalau sikap ini yang muncul nanti akan timbul argumen yang bersifat defensive seperti ‘kita tidak bisa membuka/menjawab dengan jujur, itu sudah kode etik profesi’. Padahal untuk menuju suatu kesadaran diperlukan suatu sikap terbuka, sikap transparan.

Pertanyaan di spanduk tidak bisa dijawab kalau kita masih ada dalam situasi yang acuh tak acuh, tidak peka, tidak mau keluar dari kedirian kita, masih berfokus pada diri sendiri. Konsekuensi kalau kita menjawab dalam situasi seperti ini adalah munculnya jawaban atau argumen yang  ngawur dan bodoh, apalagi kalau sampai yang menjawab orang yang bertitel tinggi.

Melalui tulisan ini, saya mengajak kita semua mengambil tanggung jawab untuk menjawab, berdialog dengan keterbukaan untuk mendapat jawaban. Dosen dengan dosen, mahasiswa dengan dosen, LK dengan mahasiswa, pegawai dengan dosen dan pegawai dengan mahasiswa. Inilah dialog yang bebas yang akan memfasilitasi kita pada suatu perubahan. Dialog yang terbuka akan memfasilitasi kita menuju kesadaran.Selamat bertemu. Selamat berdialog. Selamat menjadi SADAR.

4 thoughts on “Dari bertanya sampai bertemu (pandangan mengenai spanduk di Fakultas Psikologi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s