ARGUMEN

ARGUMEN[1]

Oleh Voltaire Talo[2]

debate

Argumen adalah dasar dari perdebatan. Menurut KBBI argumen diartikan  sebagai alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat,klaim (penegasan Penulis), pendirian, atau gagasan. Dalam berdebat kita seringkali menggunakan argumen untuk membuat lawan kalah. Mencari argumen yang tepat untuk mosi yang kita sedang perdebatkan. Oleh karena itu dalam perdebatan persoalan berargumen dan bagaimana cara kita berargumen sangatlah penting. Dalam berdebat kita menyampaikan argumen dengan tujuan agar argumen kita diterima oleh audience . argumen yang efektif adalah argumen yang persuasif. Argumen yang bisa mempengaruhi orang lain.

Lalu apakah dalam suatu perdebatan, jika kita  KALAH maka argumen kita SALAH ? argumen selalu dinilai dalam konteks keefektivitas dan bersifat relatif (Meany & Shuster,2002) artinya apa? Artinya argumen yang gagal dalam beberapa konteks belum tentu gagal di konteks yang lainnya. Jika anda berdebat untuk mendukung komodo sebagai 7 keajaiban dunia, anda mungkin gagal untuk mempengaruhi para ilmuwan lingkungan dan ekosistem. Namun hal ini bukan berarti argumen anda buruk.

Kita juga dapat melihat bahwa berargumen dalam suatu perdebatan merupakan refleksi dari cara kita berpikir, sehingga ketrampilan dalam berargumen erat kaitannya dengan ketrampilan berpikir kritis.  Namun dalam berdebat kita tidak sedang menggunakan nilai pribadi atau perasaan subjektif, kita harus menggunakan argumen dengan bukti-bukti OBJEKTIF yang mendukung. Maksudnya apa? Jika anda disuruh untuk memilih Mozart atau Beethoven, maka hal ini tergantung dengan perasaan subjektif anda mengenai musik-musik Mozart ataupun Beethoven, dan kalau hal ini diangkat dalam suatu perdebatan maka isu ini tidak akan terpecahkan. Hal ini sama dengan ketika anda berdebat dengan orang yang mengakui adanya TUHAN dan mereka yang ateis, ini masalah moral yang kita sendiri tidak bisa membuktikan secara empiris. Namun bukan juga kita menghindari, tapi kita dapat melihat pandangan yang lain.

Bagaimana cara berargumen?

Logika

Entah kita menyadari atau tidak, argumen yang kita berikan mengikuti suatu struktur dasar. Struktur dasar ini sering kita sebut logika. Ketika kita mengambil kesimpulan dan menggunakan kesimpulan dalam bergumen, kita sedang menggunakan suatu cara dalam hukum logika.

Contohnya:

Premis 1          : semua manusia pasti mati

Premis 2          : Volta manusia

K                         : Volta pasti mati.

Suatu argumen yang valid adalah jika premis-premisnya telah teruji dengan benar. Bandingkan dengan:

Premis 1          : semua burung bisa terbang

Premis 2          : burung unta adalah burung

K                         : burung unta bisa terbang.

Pembuktian suatu argumen dalam berdebat haruslah dengan memiliki data ilmiah, karena kita tidak sekedar berdebat kusir, oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui teori-teori, mengelaborasinya dengan baik dan selalu bersikap kritis terhadap segala hal. Apapun itu. Kita tidak saja hanya mengandalkan kemampuan persuasif kita, namun lebih dari itu dalam suatu perdebatan skill berpikir secara logis dan analitis diperlukan. Penting diingat juga bahwa bukti dalam argumentasi tidak seperti bukti dalam logika formal. Argumen yang masuk akal dan logis dapat saja tidak bersifat persuasif, sebaliknya argumen yang terlihat sangat persuasif malah dapat dilihat sebagai sesuatu yang logis, meskipun sebenarnya bukan. Jadi kedua hal menurut saya yaitu argumen yang logis dan persuasif tidak dapat dipisahkan ketika anda berdebat.

Bagaimana anda berpikir mengenai hal ini? Apa argumen anda?

APAKAH HEWAN BERBAHASA?

ABORSI MERUPAKAN SUATU HAL YANG MANUSIAWI.

Klaim , data dan bukti

Dalam perdebatan kita seringkali menggunakan argumen yang tidak lengkap. Perlu diperhatikan bahwa argumen berbeda dengan klaim sederhana. Klaim adalah pernyataan sepihak yang tidak disertakan dengan bukti pendukung.

Contohnya:

  • Hukuman mati merupakan suatu bentuk hukuman yang tepat
  • Pertumbuhan ekonomi lebih penting daripada persoalan lingkungan
  • Mahasiswa psikologi sangatlah apatis dan autis
  • Hukum adat harus dihapuskan

Argumen sangat berbeda dengan klaim. Sementara klaim hanya berupa suatu pernyataan, namun argumen ingin membuktikan pernyataan tersebut. Dan dalam membuktikan suatu klaim, maka argumen memerlukan yang namanya data dan bukti-bukti pendukung. Stephen Tolmin (dalam Meany & Shuster,2002) memberikan alur pemikiran  yang baik atau suatu model dari argumenasi yang akan digunakan dalam berdebat. Sehingga kita bisa melihat bahwa argumen dalam suatu perdebatan lebih dari hanya sekedar klaim sederhana.

Klaim : Pernyataan mengenai sesuatu
Data : Hal-hal yang mendukung klaim. Baik
Bukti : Hubungan antara klaim dan alasan
Backing : Dukungan terhadap bukti
Sanggahan : Hal-hal yang bertentangan dengan klaim atau pernyataan

Namun secara lebih spesifik dalam membangun suatu argumen, 3 hal dasar yang sangat penting untuk diperhatikan adalah KLAIM, DATA dan BUKTI (Meany & Shuster,2002).

Contoh:

“Hukuman mati dibenarkan”.

Seorang pendebat yang cerdas dan kritis akan mengetahui bahwa argumennya lebih menarik jika dia menyertakan data dan bukti pendukung:

“Hukuman mati debenarkan karena akan mencegah kejahatan”.

Sudah lebih baik dari sebelumnya, namun argumen ini masih kurang. Seorang pendebat yang baik akan mengungkapkan argumennya bukti serta kredibilitas dan daya persuasive dari argumennya:

“Hukuman mati dibenarkan karena bisa mencegah kejahatan. Penelitian yang dilakukan oleh Carl Rogers membuktikan bahwa di seluruh negara bagian di Amerika menerapkan hukuman mati, dan hal itu membuat tingkat kejahatan di negara bagian Amerika berkurang”.

Dengan berargumen demikian, maka kita akan memainkan asumsi audience dan membuat mereka bisa berpikir bahwa kebijakan yang mencegah kejahatan itu baik. Argumen ini mungkin juga bisa sangat menarik bagi beberapa penonton ataupun juri karena menyertakan data penelitian dan sumber yang dipercaya. Namun, tentu saja ada asumsi lain yang tidak secara eksplisit ada dalam argumen tersebut. Misalnya, jika tim affirmative setuju mengenai argumen di atas, maka mereka memiliki otoritas buat kehidpuan orang lain, mereka memiliki hak atas penentuan kematian orang lain, asumsi inilah yang kemudian dapat menjadi stand point dari tim yang lain untuk kontra terhadap argumen tersebut.

Penutup

Debat merupakan suatu seni. Bagi saya debat adalah seni interdispliner yang mana akan menuntun kita agar memiliki sikap keingintahuan dan keterbukaan terhadap semua ilmu. Seberapa banyak kita berdiskusi dan membaca akan menentukan pemerolehan dan pemrosesan informasi yang nantinya akan membantu kita dalam menganalisis argumen-argumen. Argumen yang efektif dalam suatu perdebatan, tidak saja dilihat dari sudut pandang logika, namun juga di dalamnya terdapat suatu seni untuk mempersuasi pendengar atau audience atau juri.  Selain itu, data, bukti dan klaim menjadi  hal yang sangat penting dalam membangun argumen, oleh karena itu sikap kritis dalam melihat data dan buktis suatu argumen harus selalu dilatih.

Referensi:

Shuster Kate, dan Meany John. Art, Argument and Advocay. Mastering Parliamentary Debate. The International Debate Education Association, 2002.


[1] Disampaikan dalam komunitas debat Fakultas Psikologi UKSW (18 November 2011)

[2] Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW

2 thoughts on “ARGUMEN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s