QUO VADIS IKMASTI ?

 Quo Vadis merupakan suatu ungkapan dalam bahasa latin yang jika diartikan kira-kira menjadi ‘kemana engkau akan pergi?’. Konon, dalam kisah alkitab Quo Vadis merupakan pertanyaan  Petrus kepada orang yang tak dikenal dalam suatu perjumpaan, saat Petrus lari meninggalkan Roma. Orang yang tak dikenal tersebut ternyata adalah Tuhan. Singkat cerita, suatu perubahan terjadi dalam diri Petrus, ketika Tuhan menjawab “saya akan kembali ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya.” Petrus yang awalnya ingin lari dari Roma karena disana terjadi pembantaian terhadap orang-orang Kristen, akhirnya sadar dan memutuskan bahwa dia seharusnya tidak meninggalkan orang Kristen lainnya dan kemudian menjadi martir dengan disalibkan secara terbalik.

Kisah epik ini memang tidak banyak dituturkan dalam Gereja. Saya pun mengetahui kisah tersebut dari Novel dan film yang saya nonton di kelas 2 SMP. Kisah diatas hanya sebagai pengantar tulisan  yang berjudul QUO VADIS IKMASTI? Yang kalau diartikan menjadi ‘Kemana IKMASTI akan pergi?’ Sebagai penulis, tujuan dari tulisan ini adalah sebagai suatu bentuk pemikiran yang kiranya dapat membantu teman-teman di badan pengurus IKMASTI dan anggota Ikmasti dalam menentukan arah ikmasti selanjutnya. Pertanyaan, ‘kemana Ikmasti akan pergi?’ akan sangat mudah dijawab jika kita semua mengetahui tujuan dari Ikmasti sendiri dan sebaliknya pertanyaan ini akan menjadi sangat sulit dijawab jika kita semua tidak menyadari dan tidak mengetahui tujuan dari Ikmasti.

Apa itu Ikmasti?

         Ikmasti adalah salah satu perkumpulan etnis yang ada di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Ikmasti sendiri merupakan singkatan dari Ikatan Keluarga-Mahasiswa dan Siswa/I Timor di Salatiga. Saya sendiri tidak mengetahui kapan pastinya Ikmasti ini ada di Salatiga, namun menurut cerita teman-teman, Ikmasti berdiri sekitar tahun 70an. Terbentuknya Ikmasti diawali dengan berkumpulnya mahasiswa/i yang berasal dari NTT yang melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Kristen Satya Wacana. Karena merasa senasib dan sepenanggungan di tanah rantau, maka kebutuhan akan kebersamaan menjadi pilihan utama mahasiswa pada waktu itu. Kebutuhan kebersamaan ini yang kemudian membuat mereka bisa survive. Tolong-menolong menjadi ciri khas mahasiswa/i  asal NTT di Salatiga pada waktu itu.

            Seiring berjalannya waktu, dan melalui intensitas pertemuan yang semakin sering serta semakin banyaknya pemuda-pemudi asal Flobamora yang datang ke Salatiga, maka dirasa perlu untuk membuat suatu perkumpulan yang tujuannya adalah untuk saling membantu. Membantu dari segi akademis dan dalam segi financial. Itulah sekilas sejarah Ikmasti yang saya ketahui, masih sedikit memang tapi saya harapkan dapat membawa gambaran bagi para pembaca.

Elemen-elemen Ikmasti

            Seperti yang telah dijelaskan, Ikmasti merupakan suatu wadah berkumpulnya anak-anak dari bumi Flobamora yang menuntut ilmu di Salatiga. Sebagai perkumpulan yang mengagungkan rasa kekeluargaan, maka keberadaan Ikmasti diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan akademis anak-anak Flobamora di Salatiga. Ikmasti sendiri terdiri dari beberapa elemen penting. Dengan adanya elemen ini, maka eksistensi dan konsistensi komunitas ini dapat bertahan. Adapaun elemen-elemen yang terdapat dalam Ikmasti (Ikatan Keluarga, Mahasiswa/i, Siswa/i Timor di Salatiga).

Keluarga

            Pengalaman saya berdiskusi dengan teman-teman di Ikmasti, mereka yang disebut ‘keluarga’ dalam Ikmasti adalah para orang tua. Siapakah mereka? Mereka adalah putera/puteri dari bumi Flobamora yang dulunya berkuliah di UKSW dan kemudian memilih untuk menetap dan berkeluarga di Salatiga-Jateng. Beberapa ada yang bekerja dan menetap di Salatiga sebagai dosen UKSW. Peran para orang tua ini sangat penting dalam menentukan arah Ikmasti selanjutnya. Pengalaman hidup dan spesialisasi di bidang yang mereka tekuni, dapat membantu eksistensi Ikmasti sebagai perkumpulan etnis. Namun, secara subjektif saya mengakui bahwa selama ini keberadaan keluarga/para orang tua ini tidak terlalu menjadi suatu hal yang penting. Sejujurnya, saya melihat bahwa peran orang tua dalam Ikmasti nyata ketika mau dilaksanakannya kegiatan-kegiatan, dengan demikian  perkenalan anggota Ikmasti dengan para orang tua hanya terjadi sebatas adanya proposal kegiatan yang kita berikan pada mereka (ingat..pendapat ini adalah pendapat pribadi saya).

            Secara psikologis, kita dapat melihat bahwa orang tualah yang memberikan identitas pada seorang anak, dan  berperan penuh dalam perkembangan psiko-edukasi anak dan dengan demikian saya mau mengatakan bahwa kemana arah perkumpulan etnis yang (katanya) kita cintai ini sangat bergantung pada peran orang tua. Orang tua tidak bisa hanya dilibatkan dalam kegiatan yang hitungannya setahun sekali (itupun dalam bentuk Proposal dana). Lalu peran orang tua harus seperti apa? Hemat saya, salah satu jawaban dari pertanyaan ini adalah diskusi, contohnya adalah beberapa bulan yang lalu Badan Pengurus  membuat format acara diskusi ilmiah bersama Prof. Kameo mengenai pendidikan NTT, bagi saya atmosfer ilmiah seperti inilah yang harus kita kembangkan. Inilah bentuk tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan edukasi anak-anaknya. Diskusi merupakan salah satu contoh lain dimana kita bisa melibatkan orang tua agar secara nyata berperan dan tentunya masih ada bentuk yang lain yang kita perlu cari tahu bersama.

Mahasiswa/I dan Siswa/I

            Elemen berikut yang penting dan juga berperan dalam menentukan arah tujuan Ikmasti adalah kita. Mahasiswa/I dan Siswa/i. Salah satu ungkapan dari Sokrates yang terkenal dalam pencarian jati diri adalah ‘Gnothi Seauton’ yang artinya kenalilah dirimu. Mengapa saya mulai dengan ungkapan ini? Karena bagi saya Ikmasti tidak akan kemana-mana jika kita secara individu tidak mengenal siapa kita. Dalam dunia  ini ada beberapa pertanyaan yang selalu ingin dipecahkan dari zaman pejanjian lama, zaman para filsuf sampai zaman sekarang. Pertanyaan –pertanyaan tersebut sangat kontekstual dalam suatu proses kehidupan. Siapa kamu? Darimana kamu datang? dan Kemana kamu akan pergi? Terdengar merupakan pertanyaan filsafat, namun bagi saya inilah spiritualitas yang akan merumuskan suatu visi dan misi. Dalam level individu  kalau kita belum bisa mengenal diri kita, apa visi dan misi hidup kita maka jangan berharap kita yang ada dalam Ikmasti dapat membuat Ikmasti melangkah maju. Bahkan untuk membuat Ikmasti melangkah mundur pun susah, yang ada hanya diam dan bingung menentukan arah mau kemana.

            Untuk itu pelatihan-pelatihan mengenai pengenalan diri dan tujuan hidup pribadi sangat penting untuk dilakukan. Kegiatan seperti makrab mahasiswa/i dan siswa/i baru di Ikmasti bukan lagi menekankan pada aspek nostalgia dan keceriaan dalam dugem tapi kita perlu memikirkan bersama suatu bentuk acara yang nantinya dapat membantu adik-adik mahasiswa/i,  siswa/i baru yang akan masuk ke dalam Ikmasti untuk memperoleh insight  mengenai siapa mereka sebenarnya dan apa tujuan hidup mereka.  Dengan demikian, hal-hal seperti ini yang kemudian akan  membuat kita menjadi jelas kemana arah Ikmasti selanjutnya. Suatu komunitas yang sehat adalah komunitas yang anggota-anggotanya mengetahui siapa diri mereka, sehingga komunitas itu secara otomatis akan berjalan kearah yang lebih baik.

Beberapa pendapat mengenai Organisasi atau Keluarga.

            Dalam berdiskusi dengan beberapa teman di Ikmasti, saya menangkap ada beberapa pandangan mengenai kearah mana komunitas ini akan dibawa. Ada yang mengatakan bahwa sejarah keberadaan Ikmasti adalah atas dasar kekeluargaan sehingga menolak bentuk-bentuk  yang kaku seperti organisasi (dalam hal ini pembandingnya adalah Lembaga Kemahasiswaan kampus). Beberapa yang lain mengungkapkan bahwa ada struktur badan pengurus Ikmasti yang terbentuk, ada ketua dan antek-antek lainnya sehingga mau tidak mau bentuk organisasilah yang akan dipilih. Kalau ditanya saya memilih yang mana diantara dua model Ikmasti sebagai organisasi atau keluarga, saya akan menjawab bahwa saya tidak memilih. Tidak memilih juga merupakan suatu pilihan bukan? Namun yang menjadi sorotan dan point penting muncul dua pendapat ini (menurut saya) adalah ketidakjelasan Ikmasti itu sendiri. Ikmasti yang mengambil format organisasi tentunya membutuhkan kejelasan mengenai visi dan misi organisasi serta harus adanya ADRT, dll. Saya dan beberapa teman pernah dilibatkan dalam perumusan ADRT tersebut namun sampai di titik tersebut tidak ada perumusan yang jelas juga. Format Ikmasti sebagai keluarga meskipun abstrak namun (mungkin) di rasa cocok terhadap kondisi ikmasti, hanya saja format seperti ini bukan berarti meniadakan perumusan visi dan berjalan seperti ‘air mengalir’, bahkan air yang mengalir di sungai pun membutuhkan jalur yang membawanya bermuara ke laut.

            Secara pribadi saya sangat berharap bahwa Ikmasti bisa mengadopsi dua pendapat ini menjadi satu. Ikmasti sebagai suatu organisasi yang mengutamakan kekeluargaan.  Karena secara sederhana keluarga merupakan suatu bentuk organisasi sosial. Terjadi pembagian peran dan tugas dalam keluarga sehingga arah keluarga bisa ditentukan dan disepakati oleh anggota-anggota keluarga yang lain. Ayah berperan sebagai kepala keluarga yang membutuhkan peran ibu serta anak-anaknya. Peran seorang ayah dalam keluarga bisa dianalogikan sebagai peran dari teman-teman badan pengurus dan berbicara mengenai peran tersebut maka leadership menjadi syarat utama. Sehingga arah Ikmasti sebagai organisasi keluarga yang di dalamnya terjalin hubungan orangtua-anak, kakak-adik juga bergantung kepada kepemimpinan dan karisma teman-teman badan pengurus Ikmasti, untuk itu proses dan format  pelatihan kepemimpinan yang kontekstual dengan keadaan Ikmasti perlu kita pikirkan bersama, hal inilah yang akan membedakan pelatihan kepemimpinan yang kita dapatkan di organisasi kampus dan pelatihan kepemimpinan di Ikmasti, sehingga tidak perlu lagi kita memakai format pelatihan kepemimpinan yang kuno seperti di LK, kita perlu temukan sendiri pelatihan kepemimpinan seperti apa yang diperlukan oleh Ikmasti sebagai suatu komunitas. Format pelatihan kepemimpinan yang unik. Jika kita bisa menemukan format kepemiminan seperti ini saya sangat percaya bahwa adik-adik kita yang datang dari bumi Flobamora tidak lagi ‘takut’ untuk berkumpul dengan saudara-saudari satu asal.

Penutup

Tulisan ini masih membutuhkan kritik dan pemikiran lainnya, yang nantinya dapat menjadi bahan diskusi buat bapa-mama, dan basodara semua. Penulis berharap bahwa tulisan ini dapat memberikan suatu paradigma berpikir buat basodara semua khususnya badan pengurus dan panitia makrab. Melalui tulisan ini penulis ingin mengucapkan selamat bekerja dan selamat melayani bagi teman-teman Badan Pengurus harian Ikmasti. Sukses selalu.. Syalom aleichem

2 thoughts on “QUO VADIS IKMASTI ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s