Nilai Mata Kuliah & kecemasan eksistensial (aku cemas, maka aku ada)

nilai A?

Beberapa hari ini mahasiswa dan mahasiswi di Fakultas Psikologi UKSW saling memberikan pendapat pada satu media sosial di internet.  Mereka berpendapat dan berargumen mengenai masalah tentang nilai-nilai mata kuliah yang belum keluar dari dosen, bukan saja memberikan pendapat tapi ada juga yang memberikan kritik.

Tentu saja saya juga boleh berpendapat mengenai permasalahan ini. Saya meilhat bahwa sebagian besar mahasiswa/I ini mengalami apa yang disebut dengan kecemasan eksistensial (hipotesa saya) ketika nilai mereka terlambat dikeluarkan oleh dosen. Kemudian yang menjadi pertanyaan kritis adalah apakah ada hubungan mengenai  terlambat keluarnya nilai mata kuliah dengan kecemasan eksistensial?  Dari sini kemudian saya berpikir untuk menulis kembali definisi nilai dan kecemasan eksistensial dan mencoba untuk membahas dua variabel ini terkait dengan fenomena yang saya jumpai.

Nilai Mata Kuliah

Sebelum masuk kepada definisi mengenai nilai mata kuliah, mungkin saya perlu memberikan definisi nilai secara umum. Salah satu definisi nilai yang ditulis di KBBI adalah nilai merupakan sesuatu yg menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya: etika dan — berhubungan erat. Sehingga dalam  hal ini definisi nilai mata kuliah menurut saya adalah sesuatu yang menyempurnakan mahasiswa dalam suatu rentang waktu studi (semester) yang dapat berpengaruh kepada hakikatnya sebagai mahasiswa.

Pada umumnya nilai mata kuliah ini berupa suatu angka yang menentukan seorang mahasiswa/I itu berhasil dalam satu mata kuliah, pemberian angka ini merupakan suatu parameter keberhasilan mahasiswa. Mahasiswa bisa mengambil mata kuliah selanjutnya jika dia sudah lulus mata kuliah-mata kuliah yang menjadi prasyarat, sehingga dengan demikian mahasiswa/I sudah bisa merancang kemampuan dan kapasitas mereka untuk mengambil berapa banyak mata kuliah di semester depan.

Kecemasan eksistensial

Filsuf-filsuf aliran eksitensial meyakini bahwa dalam hidup ada banyak sekali ancaman yang akan mempengaruhi ‘adanya’ manusia, salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan tentu saja berbeda dari ketakutan. Ketakutan memerlukan obyek dan obyek dari ketakutan itu jelas, misalnya; takut pada babi, takut pada dosen, dan sebagainya.

Paul Tillich, seorang teolog mendefinisikan kecemasan eksistensial sebagai kecemasan dari ketidakberadaan (non-being) (kecemasan eksistensial). Secara sederhana, orang takut akan ketidakberadaan mereka sendiri dan hal yang paling ekstrem dari hal ini adalah kematian. Tillich juga mengungkapkan lebih lanjut bahwa kecemasan adalah kesadaran tiap orang bahwa eksistensinya senantiasa terancam oleh kehilangan, dan keberadaannya selalu dibayangi oleh ancaman ketiadaan. Lalu apakah dengan memiliki kecemasan eksistensial, kita bisa menjadi terpuruk sebagai manusia?

Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, pernah menulis, bahwa kecemasan eksistensial memiliki dampak positif. Dengan mengalami kecemasan eksistensial, orang menjadi terbuka terhadap realitas. Ia terbuka pada “Ada“. Tentu saja, tidak sembarang orang bisa melakukan ini. Banyak orang yang hancur secara emosional, ketika ia mengalami kecemasan eksistensial. Dibutuhkan suatu pandangan yang jernih dan hati yang tegar untuk mencari sisi positif dari kecemasan eksistensial. Dan memang, tidak semua orang memiliki kemampuan seperti itu. [1]

Pembahasan

Perdebatan mengenai nilai-nilai mata kuliah yang belum dikeluarkan ini membuat beberapa (kalau tidak mau dibilang semua) mahasiswa/I resah dan hal yang paling menggelitik saya adalah fenomena ini terjadi pada satu situs jejaring sosial. Memang fenomena keterlambatan nilai ini sudah sejak dari tahun saya masuk kuliah sampai saya (hampir) lulus.

Sudah seharusnya mahasiswa mendapat penjelasan mengenai keterlambatan nilai dari dosen, karena itu adalah hak mahasiswa, dan tidak salah juga kalau kita sebagai mahasisiwa menuntut hak kita. Menuntut agar bisa mengetahui nilai mata kuliah dengan segera agar kita sebagai mahasiswa bisa merancang mata kuliah dan berapa banyak sks yang akan kita ambil di semester depan.

Seperti yang sudah saya jelaskan bahwa nilai mata kuliah adalah sesuatu yang berhubungan dengan hakikat dan eksistensi kita sebagai mahasiswa, jika nilai mata kuliah ini terlambat keluar maka tidak salah mahasiswa juga menunjukan sikap cemas. Disamping sebagai pertanggung jawaban akademis kepada orang tua, maka terlambat keluarnya nilai bisa membuat mahasiswa/I cemas karena mahasiswa belum memiliki parameter yang jelas mengenai beban studi atau mata kuliah apa yang akan mereka ambil di semester depan. Ketidakpastian ini dapat membuat mahasiswa/I mengalami kecemasan. Kecemasan bagaimana menghadapi semester depan, apakah saya bisa mengambil mata kuliah A, jika nilai B semester ini belum keluar, apakah saya bisa click  skripsi jika nilai ZZ di semester ini belum keluar, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berhubungan dengan keberadaan atau eksistensi mahasiswa sebagai individu.

Dengan demikian, ketika tidak ada kepastian nilai membuat kita sebagai mahasiswa/I  bisa mengalami ‘ketidakberadaan’ untuk menjalani hidup akademis dan ini yang mengakibatkan kecemasan eksitensial muncul. Kenapa? Kita hidup dalam dunia yang melihat nilai, nilai apapun itu. Nilai diri, nilai moral, nilai hidup bahkan sampai pada nilai mata kuliah. Meskipun beberapa nilai yang saya sebutkan itu, ada yang tidak memiliki ukuran secara statistik. Anda mau melamar pekerjaan yang dilihat pertama kali adalah nilai akademis anda. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa keberadaan atau eksistensi kita juga ditentukan oleh nilai yang kita miliki. Anda dikatakan berhasil dalam mata kuliah A kalau nilai anda 100, dan sebagainya. Sehingga, angka 100 itu bukan sekedar angka tapi menunjukan siapa anda (meskipun tidak semuanya). Nah, berkaitan dengan fenomena yang saya jumpai di fakultas, ketika nilai ini terlambat keluar maka mahasiswa juga tidak tahu keberhasilan atau kesuksesan dalam mata kuliah yang diambilnya. Ketidaktahuan mengenai keberhasilan, membuat mahasiswa mengalami kecemasan eksitensial  karena keberhasilan juga berpengaruh bukan saja pada rencana mereka namun pada nilai diri sebagai mahasiswa. Kecemasan ini kemudian melahirkan kritik dan protes sebagaimana yang saya baca di situs jejaring sosial tersebut. Kritik terhadap dosen mata kuliah sebagai otoritas.

Saya sangat setuju dengan Heidegger bahwa kecemasan eksistensial memiliki dampak positif. Seharusnya dengan mengalami kecemasan eksistensial kita bisa menjadi terbuka terhadap realitas. Menurut saya, sikap terbuka terhadap realitas ini juga harus menyertakan nilai moral didalamnya. Bagaimana ketika saya menghadapi realitas nilai mata kuliah yang terlambat keluar, saya bisa mengemukakan kritik saya sebagai homo academicus dengan sopan dan intelek bukan dengan emosi. Inilah yang saya lihat dalam  Grup BPMF Psikologi UKSW di Facebook.  Beberapa komentar dan argument  yang dberikan  oleh beberapa teman masih terkesan emosi dan menunjukan tidak terbuka terhadap realitas(menurut saya), inilah gambaran mahasiswa/I yang hancur secara emosional ketika mengalami kecemasan eksistensial (kalau ini menurut Heidegger).

Contoh komentar seorang mahasiswa di grup BPMF Psikologi USKW yang (mungkin) nilai mata kuliahnya belum keluar:

Mahasiswa Z : “ aha!!! lagu buat bu X : kau bohong.. kau bohong… kau bohong… hahahhahahahha”

Dan kemudian ditanggapi oleh bu dosen tersebut dengan :

“‎ Z dislike your comment… itu tdk menghargai org kerja yg bc tugas-tugas ada yg spasi 1, font 10, tulisan jelek..”

Selanjutnya bisa dibaca di link ini:  http://www.facebook.com/home.php?sk=group_164980500201301&ap=1

Bagi saya inilah komentar mahasiswa psikologi UKSW yang sedang hancur secara emosional. Saya tidak tahu apakah dengan contoh komentar diatas, memang sering dilakukan oleh mahasiswa ini karena faktor kedekatan dengan dosen tersebut dan saya juga tidak tahu konteksnya apa (karena dalam membaca pesan-pesan di public space kita perlu memahami konteks dan teks) namun jika ini terjadi pada situs sosial, adalah suatu hal yang dapat menimbulkan interpretasi dan mungkin sakit hati. Semoga saja ini hanyalah kecemasan saya.

Untuk itu sangat dibutuhkan pemikiran yang jernih dan kerendahan hati dalam mengkritik seseorang . inilah contoh mahasiswa/I yang bisa mengatasi kecemasan eksistensial menyangkut nilai mata kuliah.🙂

Buat kita mahasiswa: kritiklah dengan membangun dan tanpa menyinggung, karena kita tidak mengetahui apa yang sedang dosen kita gumulkan.

Buat para dosen: tempatkanlah kami mahasiswa menjadi proritas, agar keterlambatan keluarnya nilai tidak terulang lagi, karena akan membuat kami cemas, khususnya adik-adik angkatan yang masih kuliah dan membutuhkan nilai untuk merancang masa depan. 🙂

Saya cemas, maka saya ADA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s