Sanctum (sebuah refleksi dari Psikoanalisa, Gender dan Kasih Bapa)

   SANCTUM. Sanctum merupakan salah satu judul film yang dirilis bulan  Februari tahun 2011. Film ini mengisahkan tentang sekelompok tim yang melakukan ekspedisi di Gua Esa-Ala Papua Nugini, dimana menurut ‘cerita’ Gua ini merupakan gua terbesar di dunia. Sanctum sendiri secara harafiah berarti tempat yang suci atau dalam arti kamus (Encarta dictionaries) : “a quiet private place where somebody is free from interference or interruption”.  Konflik dalam film ini diawali saat adegan menyelam antara Richard Roxburgh ( Frank)  bersama Allison Cratchley ( Judes ). Semua anggota tim Ekspedis Esa-Ala pun akhirnya harus berduka karena mereka kehilangan Judes, salah satu penyelam gua terbaik. Adegan ini kemudian menjadi awal untuk ‘membuka’ adegan-adegan lain di film ini yang melibatkan aspek emosional penikmat film.

diunduh dari http://huehueteotl.wordpress.com/2007/05/21/gender-role-and-how-we-gain-it/

SANCTUM The spirit of Gender?

Awal saya menonton film  ini, saya berpikir bahwa harusnya film ini menjadi bahan yang baik untuk belajar dan tentu saja harapan saya tercapai. Saya puas meskipun sejatinya film ini bukan alat pemuas. Apa yang dapat saya pelajari dalam film ini?

Dalam kajian psikoanalisis Freud yang mempelajari alam bawah sadar manusia, seringkali muncul makna-makna simbolik yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Entah itu manusia laki-laki maupun perempuan.

Berbicara mengenai simbol dalam tatanan budaya kita, terlihat masih terdapat dikotomi maskulin dan feminim. Ada kesan-kesan tertentu yang ditampilkan melalui sebutan-sebutan maskulin dan feminim tersebut, misalnya; untuk konsep maskulin kita cenderung memiliki kesan bahwa konsep ini haruslah identik dengan agresif, berani, keras, melindungi dan tinggi, berbeda dengan konsep feminim yang sering dikesankan memiliki kelembutan, merangkul, ketenangan, pasif dan sabar. Kesan-kesan maskulin dan feminis ini kemudian termanifestasi dalam  peradaban manusia.  Bentuk – bentuk bangunan seperti tugu, monument, dan menara dalam pemahaman psikoanalisa merupakan hasrat dari nafsu maskulinitas pria yang kemudian diasosiasikan dengan bentuk penis atau alat kelamin pria, hal ini tentunya menggambarkan bahwa dominasi patriarki sangat berperan dalam seluruh kebudayaan.

Meskipun kurang menekankan sifat feminis perempuan dan Freud sendiri cenderung mengacuhkannya namun kalau kita mau lihat sebenarnya kesan-kesan feminis juga terdapat pada kebudayaan kita dengan berbagai sebutan dan juga bentuk-bentuk peradaban dunia. Kita mengenal sebutan ‘ibu pertiwi’, ‘ibu kota’, ‘dewi malam (bulan)’. Bahkan dalam berbagai peradaban bentuk dari stadion/ gelanggang olahraga sering diasosiasikan sebagai bentuk dari uterus atau rahim. Sebutan-sebutan ini cenderung menggambarkan kepasifan, ketenangan, dan kedamaian serta perawatan dan juga rasa nyaman.

Baik kembali ke film Sanctum, saya melihat bahwa Sanctum sendiri yang berarti tempat keramat atau tempat suci, dalam film ini digambarkan sebagai gua yang merupakan bentuk simbolis dari rahim atau uterus seorang ibu. Gua yang suasananya tenang, gelap dan terkesan lembab. Dalam film ini saya tidak menemukan figur  seorang ibu secara nyata, meskipun Rhys Wakefield ( josh) merupakan seorang anak, namun film ini lebih menekankan hubungan antara  Josh sebagai anak dan Frank sebagai ayah. Figur atau peran ibu ini kemudian diganti oleh sosok Esa-Ala (gua)/ alam.

Hadirnya sosok Esa Ala sebagai simbolisasi dari figur  ibu/perempuan  ternyata digambarkan dengan baik di film ini, ada satu adegan dimana Frank mengatakan pada Josh “there’s no god down here” . tidak ada tuhan dalam gua ini. Perkataan Frank menunjukan ‘God’ atau Tuhan yang digambarkan sebagai sosok laki-laki dalam kebudayaan umum tidak lagi berlaku, yang ada hanyalah penyatuan diri dengan alam/Esa Ala/ Ibu, dengan demikian pernyataan ini menuju pada perspektif gender. Dominasi kekuasaan kaum pria runtuh dan untuk itu perlu di dekonstruksi lagi, bahwa sosok perempuan juga bisa memegang peranan penting, bisa mendominasi seperti yang dilakukan gua Esa Ala dengan memberikan ‘kesulitan’ pada kaum pria yang tersesat di dalamnya.  Peranan yang selama ini dimainkan oleh kaum pria juga bisa dimainkan oleh perempuan sehingga pendapat psikoanalisa Lacan yang mengatakan “theres no woman” juga perlu dikritisi lagi.

SANCTUM The spirit of Father Loves!

diunduh dari http://www.oocities.org/gb_chat/smilejesus.html

Konflik antara Josh dan Frank yang notabene merupakan konflik ayah dan anak, membuat josh membenci ayahnya. Josh mengenal ayahnya sebagai seorang yang  ambisius, keras kepala dan susah mendengarkan. Gambaran negatif Josh mengenai ayahnya juga tercermin dalam perilakunya pada sang ayah (Frank). Ketidakharmonisan hubungan antara ayah – anak ini mengajarkan saya satu hal yaitu PENGORBANAN, dengan pengorbanan maka akan memulihkan hubungan yang telah rusak.

Dalam tradisi yudeo-kristen kita memanggil YHWH dengan sebutan Bapa, namun ketika Adam dan Eva jatuh ke dalam dosa, hubungan antara BAPA dan Anak menjadi rusak. Manusia semakin terpuruk dalam kehidupan yang penuh dengan dosa. Gambaran BAPA pun menjadi rusak. Mungkin ada masa-masa ketika kita berperilaku seperti Josh yang memandang negatif ayah jasmani kita, berperilaku seakan-akan ayah kita adalah ancaman bagi hidup kita, semua yang dia lakukan adalah salah  bahkan secara ekstrem tanpa kita sadari dalam jaman rasionalitas ini, kita juga memandang dengan pesimis Bapa kita di sorga. Kita lebih terpengaruh dengan pemikiran kita sendiri dan menolak eksistensi BAPA di Sorga, dengan begitu kita juga menolak untuk Dia melakukan hal yang lebih baik lagi dalam hidup kita menurut rencanaNya.

Peristiwa mengenai pengorbanan dan kasih seorang ayah tergambar dengan baik dalam film ini. Josh menemukan dan menyadari bahwa sang ayah sangat mengasihinya dan sangat percaya terhadap dirinya, meskipun ada masa-masa dimana proses yang dia alami dalam hubungan ayah-anak sangat menyakitkan. Hal yang menarik lainnya adalah ketika Josh berhasil keluar dari Esa Ala, dimana dia akhirnya berenang dan menemukan pantai. Keluarnya Josh dari ketersesatan di ‘rahim’ Esa Ala merupakan suatu bentuk kelahiran kembali (lahir baru), kesadaran akan pengorbanan seorang ayah membuatnya bertekad untuk kembali menemukan jalan keluar dari ketersesatannya dan lahir kembali sebagai seorang anak yang menghargai pengorbanan.

Dari tiap adegan yang dilukiskan dalam film ini, saya kemudian berpikir bahwa dalam kehidupan yang tidak sempurna ini, optimisme tentang konsep kasih dan pengorbanan sangat diperlukan dan yang lebih penting lagi dilakukan. Dalam ketersesatan kita di dunia ini, kita perlu kembali memahami dan menyadari pengorbanan yang telah BAPA berikan di salib dan perlu mengalami kelahiran baru untuk kembali menikmati kasih BAPA dan memperbaiki hubungan denganNya. Kita juga perlu kembali menyadari kasih yang selama ini orang tua  kita masing-masing berikan dan pengorbanan mereka dalam hidup kita dengan begitu kita akan tahu bahwa kita telah berubah menjadi lebih baik.

Tuhan Memberkati🙂

4 thoughts on “Sanctum (sebuah refleksi dari Psikoanalisa, Gender dan Kasih Bapa)

  1. Bagus skl tulisan ini..”optimisme tentang konsep kasih’…intinya Kasih hrs memiliki tempat utama dlm hati kita…sebab hukum kasih yang Bapa ajarkan bagi kita yaitu kasih kepada Bapa dan sesama itulah yg akan menuntun kita mengarungi dunia yg tdk sempurna ini…Jesus Bless Us

  2. woooww,,,, ulasan yang sangat bagus dari film SANCTUM

    pada umumnya,, setiap manusia akan baru merasakan adanya KASIH melalui PENGORBANAN..

    tanpa PENGORBANAN maka KASIH tak begitu di hargai (lihat saja perilaku Josh terhadap ayahnya)

    begtipun ADAM dan HAWA,, akan baru merasakan KASIH ALLAH ketika mereka jatuh ke dalam dosa..

    pesan saya : baiklah masing-masing kita menghargai KASIH ALLAH melalui PENGORBANAN TUHAN YESUS

    GOD BLESS US ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s