Debat

Tujuan utama dari tulisan ini bukannya untuk mengajak anda sebagai pembaca berdebat. Tujuan dari tulisan ini adalah sebagai suatu pemikiran yang coba saya tuliskan sehingga (mungkin) bisa menjadi bahan refleksi bagi mereka yang sangat menyukai ‘debat’, namun jika nantinya terjadi perdebatan setelah membaca tulisan ini maka puji Tuhan.

Volt, sebentar kelompok gw maju presentasi bahan kuliah, pliss u jangan Tanya-tanya ya, supaya kelompok gw cepat presentasinya..’

Saya masih ingat kalimat itu ketika ditujukan pada saya oleh salah satu teman dalam kuliah Psikologi Sosial 2, waktu itu saya malas menjawab dan hanya tersenyum saja kepada beliau yang mengajukan request. Kemudian saya jadi berpikir kembali kenapa saya tidak boleh bertanya, namun akhirnya saya memutuskan untuk bertanya apa yang kelompok mereka presentasikan. Salah saya karena saya tidak mengerti instruksi yang sudah diberikannya.. ‘jangan tanya-tanya ya’…

Secara umum (mungkin) kita pernah mengalami apa yang saya alami di dalam kelas ketika konco kita mau maju untuk mempresentasikan hasil pemikirannya/kelompoknya, ada harapan agar jangan ada pertanyaan yang muncul dari para audience agar presentasinya cepat dan sukses, karena makna diam dalam suatu kelas ketika ada yang presentasi adalah suatu kesuksesan. Sang pemateri atau penceramah atau kelompok-kelompok presentasi akan melihat bahwa jika ruangan menjadi hening ketika mereka ada di depan dan membawakan materi presentasi, berarti seisi ruangan tersebut sudah mengerti apa yang mereka bicarakan dan hal ini akan membuat mereka menarik kesimpulan bahwa presentasi mereka berhasil atau sukses karena tidak ada pertanyaan. Karena tidak ada pertanyaan maka semua pasti sudah mengerti. Benarkah begitu?

Dalam filsafatnya, Sokrates sangat mementingkan terjadinya dialektika atau dialog antara dua orang atau lebih, karena filsafat sangat membutuhkan perdebatan dan terbuka akan setiap pertanyaan, dan situasi seperti ini yang seharusnya terjadi pada kelas-kelas Universitas dalam tataran ideal. Terjadinya dialog akan memungkinkan terjadinya suatu proses diskusi dan pertukaran ide dari pertukaran ide ini kemudian terjadi suatu dikotomi ‘ide-ku dan ide-mu’, pembedaan ini kemudian melahirkan apa yang disebut dengan argumentasi/pendapat (pendapat-ku dan pendapat-mu) dan setelah itu muncul perdebatan.

Inti dari suatu perdebatan bukan untuk melihat siapa yang menang atau siapa yang kalah, tapi untuk melihat apakah argumen-argumen yang dikemukakan dalam suatu perdebatan memiliki logika berpikir yang benar atau tidak, sekalipun debat dijadikan suatu perlombaan dan ada pengkategorian pemenang namun semangat utama dari perdebatan adalah argumentasi yang jelas dan logis ( Shaw, 1992)

Apa yang kutemui?

Saya dan beberapa teman di Fakultas Psikologi UKSW mendapat kesempatan  membantu 2 tim debat Fakultas Psikologi UKSW dalam mempersiapkan mereka untuk mengikuti lomba debat di UNIKA Soegijapranata Semarang. Dalam proses membantu 2 tim debat ini, saya secara pribadi juga belajar dari mereka, kami saling bertukar pikiran dan kemudian mencoba mencari data-data untuk mendukung mosi, serta melakukan simulasi dalam berdebat, namun hal yang paling membuat saya bahagia adalah ketika salah satu teman yang tergabung dalam tim debat bertanya; “kak, bagaimana agar saya bisa berpikir analitis dengan cepat?”pertanyaan ini membuat saya melihat kesungguhan dari sang penanya untuk mengalami suatu progress, saya menjawab bahwa sebenarnya dia sudah bisa menganalisis hanya saja masih ragu-ragu, oleh karena itu saya mengatakan kepadanya agar berganti peran dan coba menjadi pembicara kedua agar bisa melihat argumen lawan dan langsung bisa mengemukakan bantahan.

Dalam latihan, beberapa dari mereka juga terkesan takut dan ragu-ragu, padahal mereka tahu apa yang seharusnya menjadi argumen, ketika kami para mentor memberikan feedback pada mereka, beberapa dari mereka serentak berkata ‘itu kan, gw tadi mau ngomong hal yang sama’, ‘tadi aku, mau mengeluarkan teori itu tapi aku ragu’.

Pertanyaan mengenai cara berpikir analisis yang cepat dan  respon yang mereka berikan bukan salah mereka, atau kemudian kita mengambil kesimpulan bahwa mereka bodoh, tapi saya lebih melihat hal ini sebagai suatu proses kemenjadian, selain itu saya melihat bahwa respon-respon yang mereka berikan, pertanyaan mengenai cara berpikir analitis memiliki kaitan dengan atmosfer di ruang kelas. Saya pribadi pernah mengalami hal itu, ketika dosen memberikan jawaban atas suatu pertanyaan dalam diskusi, barulah saya bergumam ‘nah, tadi gw mau ngomong hal itu’, kenapa tidak langsung dikatakan? Kenapa mesti tunggu dosen bicara dulu baru kita mengaminkan? Karena saya waktu itu takut salah jadi butuh penegasan, hal ini sudah terbentuk secara otomatis dalam otak kita karena atmosfer dalam ruang kuliah yang seharusnya penuh dengan pertanyaan, dibatasi oleh diri kita sendiri dan situasi.

Situasi di ruang kuliah seperti ini yang mengakibatkan para mahasiswa kurang bisa berpikir cepat dan kurang bisa melihat masalah dan menganalisisnya. Diskusi seakan menjadi momok dan pertanyaan-pertanyaan menjadi ancaman yang (selalu) menimbulkan kecemasan bagi yang ditanya. Prinsip seperti ini harus dipatahkan dalam nama dialog dan keterbukaan.

Solusi

Saya mendefinisikan debat sebagai suatu seni interdisipliner, dimana sekalipun saya mengikuti debat psikologi namun fenomena yang kita jumpai tidak bisa semuanya di’psikologikan’, memangnya psikologi adalah ilmu yang paling superior? Sebagai mahasiswa saya sangat bersyukur banyak berdiskusi dan belajar dari teman-teman di kelompok diskusi interdispliner  di kampus yang di dalamnya terdiri bukan saja dari satu displin ilmu tapi berbagai displin ilmu.

Proses berdiskusi inilah yang secara pribadi membantu saya dalam menganalisis dan melihat suatu fenomena yang terjadi, dan hal ini (mungkin) juga dirasakan oleh beberapa teman. Untuk itu saya sangat berharap agar diskusi-diskusi semacam ini tetap ada dan ‘hidup’ bukan saja di luar kelas tapi juga di dalam kelas-kelas kuliah. Tanpa ada rasa takut salah dan bersalah, dalam diskusi semua argumen dan pertanyaan dapat ditujukan untuk mencapai suatu dialog yang akan membawa pada pemahaman. Jangan sampai forum-forum diskusi di kampus anda dan saya dan di fakultas-fakultas menjadi mandul lalu mati.

Selamat berdiskusi

13 thoughts on “Debat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s