Pendapat Jiwa-jiwaku

Ketika purnama mulai tak kuasa menyaingi gulitanya malam, aku pun rebah dalam kelembutan tilam.  Seketika aku tersadar bahwa aku bukan satu melainkan banyak dan saat itu pun pertanyaan yang paling manusiawi muncul dalam benakku “apakah aku waras?”

Pertanyaan ini yang mengganggu tidurku. Aku semakin cemas ketika mendengar suara berbisik lembut dalam kamar yang sepi. Apakah diriku terbagi? Apakah aku seorang Schizophrenia? Tak kuasa menahan ketidaksinkronan ini aku mulai memberanikan diri untuk mencari sumber suara lembut itu dan ternyata aku temukan berasal dari diriku sendiri.

Dalam diriku aku menemukan bahwa jiwa-jiwaku sedang bercakap dan beradu argumen layaknya orang berdebat.

Jiwaku yang satu menyuarakan dengan lantang tentang kecantikan seorang perempuan muda yang energik, jiwa yang lain dengan lebih tenang dan lebih pesimis berkata bahwa ada kelembutan seorang perawan yang menunggu di batas fatamorgana, meskipun dia tidak tahu pasti dimana batas fatamorgana.

Jiwa ketiga juga tidak mau kalah, dengan sedikit rohani jiwa ini mengatakan bahwa aku harus menunggu waktu Ilahi untuk mendapat wanita Ilahi.

Mendengar pendapat mereka aku muak dan marah…

Namun apa pun pendapat mereka, keputusan tetap ada di tanganku…

Dan sekarang aku memutuskan untuk kembali pada kelembutan tilamku

 

Selamat malam jiwa-jiwaku

 

Salatiga, 26 Mei 2011

2 thoughts on “Pendapat Jiwa-jiwaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s